Take Me For Granted; Hantu Masa Lalu dan Lamaran Pernikahan

Judul: Take Me For Granted
Penulis: Nureesh Vhalega
Penerbit: Elex Medi Komputindo
Tebal: 216 halaman
"Karena pasangan itu adalah dua orang berbeda, yang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Nggak ada yang sempurna. Tapi, kompromi yang akan menyempurnakan." (h. 60-61)
Take Me For Granted berkisah soal Ellya yang mendadak dilamar kekasihnya, Fathan. Mereka sudah bersama tujuh tahun dan hubungan mereka bukan sekadarnya. Tentunya pernikahan harusnya mudah terjadi kan?

Sayangnya, tidak semudah itu.

Hantu Masa Lalu

Sedari awal membaca Take Me For Granted, saya sudah sangat penasaran dengan alasan Ellya menolak lamaran Fathan. Kenapa?

Padahal sepanjang membaca cerita, saya bisa merasakan bahwa hubungan Ellya dan Fatha memang mengarah kepada hal yang lebih serius. Usia mereka pun sudah memasuki usia siap menikah, jadi tentunya tidak heran jika hubungan mereka dibawa ke arah pernikahan.

Nah, jawaban ini bisa ditemukan sepanjang cerita. Take Me For Granted ini dituturkan dalam alur maju-mudur. Nggak sekali dua kali pembaca diajak untuk mengingat hubungan Ellya dan Fathan bertahun-tahun sebelumnya. Mulai dari pertemuan pertama mereka, kencan yang berkesan, kenangan-kenangan manis keduanya. Buku ini jadi terasa sangat sweet dan romantis.

Nah, sayangnya, di antara alur maju-mundur ini, hantu masa lalu yang seharusnya menekankan alasan Ellya tidak mengiyakan lamaran Fathan itu terlalu sedikit muncul. Hantu itu hanya muncul sesekali, sedikit, dan kurang memancarkan aura tragis/traumatis yang layak membuat Ellya merasa sebegitu gamang.

Seandainya si hantu masa lalu ini dieksplorasi lebih, diperdalam, dan ditulis lebih banyak, Take Me For Granted akan menjadi lebih memuaskan. Pembaca akan diajak merasakan ketakutan Ellya, bukan hanya hubungan manis Ellya dan Fathan.

Tentang Pernikahan dan Karakter Pendukung

Tema utama yang diangkat buku ini soal pernikahan. Soal Ellya yang harus menghadapi masa lalunya dan lamaran Fathan. Nah, selepas lamaran itu, hubungan Ellya dan Fathan dipenuhi ombak. Ada saja yang terjadi, tentunya selain soal hantu masa lalu Ellya.

Namun, tentunya pernikahan memang tidak sesederhana itu kan?
"Masalahnya, nikah itu bukan sesuatu yang main-main. Bukan soal umur lo sudah cukup, penghasilan lo cukup, apalagi menurut orang-orang sudah waktunya nikah. Nggak, pernikahan nggak seremeh itu." (h. 190)
Sepakat banget sama kutipan dari Ellya yang satu ini. Seandainya saja pun bagian Ellya memikirkan pernikahan dibuat lebih mendalam, Take Me For Granted nggak bakal terasa lebih banyak soal yang manis-manis aja. Bukannya nggak suka sih, cuma kadar hubungan manis Fathan-Ellya ini sudah melewati standar saya. Habis hidup kan nggak selalu bahagia aja.
"Nggak ada kebahagiaan tanpa kesedihan." (h. 168)
Selain konflik Fathan dan Ellya, ada juga subkonflik lain dengan karakter-karakter pendukung. Sebenarnya, karakter pendukung di buku ini ada banyak. Saya coba tulis satu-satu nih yang semacam mempengaruhi jalan cerita.

1. Disha. Sahabat Ellya, adik Fathan.
2. Arya. Adik Ellya.
3. Mama Ellya.
4. Bima. Sahabat Fathan.
5. Roni. Pacar Ellya.
6. Rayen. Teman kantor Ellya.
7. Karina. Mantan Fathan.
8. Cherla. Teman kantor Ellya.
9. Orang tua Fathan.
10. Dan lainnya.

Tuh banyak banget kan? Seandainya dipersempit dikit gitu, saya bakal lebih mudah untuk naksir sama karakter-karakter pendukung. Hanya Ellya dan Fathan yang cukup dieksplor. Karakter lain tuh akhirnya cuma muncul, ngasih petuah dan nasihat, lalu menghilang.

Penutup

Nah, meski demikian, bukannya buku ini nggak saya nikmati ya. Tulisannya rapi dan mengalir, lalu banyak yang quotable juga. Ditambah kovernnya cakep dan kisah Fathan-Ellya cukup ringan tapi penuh manfaat soal pernikahan.

Cocok dibaca yang butuh kisah romance manis!

Sebagai penutup, saya tulis kutipan yang menggambarkan judul buku ini:
"Karena hal-hal itu mudah, sudah biasa buat lo juga sudah diperkirakan, you take it for granted." (h. 144)
Selamat membaca!

Share:

0 comments