Mayday, Mayday; Apa yang Terjadi Selepas 'Malam Itu'?

Judul: Mayday, Mayday
Penulis: Laili Muttamimah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 halaman

Kehidupan Alana sempurna. Dia diterima pelatihan pramugari di maskapai impiannya. Dia punya pacar yang baik hati. Dia didukung keluarga. Dan dia dikelilingi sahabat yang luar biasa.

Akan tetapi, semua berubah ketika Negara Api menyerang--maksudnya, dalam satu malam. Alana menjadi korban perampokan dan ... pemerkosaan.

Pelecehan Seksual dan Respon Masyarakat

Ini buku bergenre young adult kedua yang saya baca yang mengangkat tema pemerkosaan, pelecehan seksual. Buku pertama itu The Way I Used to Be karangan penulis luar. Keduanya punya tema yang sama, tapi punya perkembangan karakter utama yang berbeda. (Selain dua judul ini, ada buku young adult lain yang juga mengangkat tema pelecehan seksual, tapi dibawa dalam bungkus yang berbeda.)

Jika dalam The Way I Used to Be, pembaca akan menemukan bagaimana karakter utama hancur secara emosional. Dalam Mayday, Mayday ini saya justru tidak merasakan emosi dan keputusasaan Alana selepas malam itu. Memang sih ada penggambaran kesedihan Alana, tetapi rasanya itu tidak cukup. Pasalnya Mayday, Mayday ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Seharusnya POV ini bisa membuat pembaca ikut merasakan jadi Alana. Sayangnya "aku" milik Alana ini seolah berjarak dari yang (mungkin) seharusnya dirasakan olehanya. Tidak seperti ketika membaca The Way I Used to Be, saya merasa ngilu karena Eden.

Mayday, Mayday ini semacam lebih menitikberatkan pada bagian di luar emosi Alana. Apa yang dia perbuat, bagaimana cara dia berusaha tetap memperjuangkan impiannya, pilihan yang diambilnya, respon orang-orang di sekitarnya. Hal-hal seperti itu. Apalagi sejak Alana tahu bahwa dia hamil.

Lalu, satu lagi yang lebih terasa dalam Mayday, Mayday ini adalah respon masyarakat terhadap Alana. Dalam novel ini, pembaca akan mendapatkan kenyataan pahit bahwa banyak yang menganggap korban pelecehan seksual itu sebenarnya tidak dilecehkan. Entah bilang bahwa kedua pihak sama-sama menikmati, si korban pasti pakai pakaian nggak pantas, sampai korban yang justru menggoda. ASSJKFGSKLHALKSJALDHL pengen marah banget dengernya !! >(

Mayday, Mayday ini memanglah kisah fiksi, tapi respon orang-orang di sekitar Alana ini tuh benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Saya nggak habis pikir kenapa ada manusia yang nggak punya simpati apalagi empati macam itu.

Selain respon mengerikan begitu, Alana juga merasakan respon orang sekitar yang tidak percaya dengan kejadian itu, termasuk orang tuanya. Ketika membaca bagian itu tuh saya sedih banget karena ucapan ayah Alana itu sumpah bikin sakit. T_T

Ayah Alana bisa jadi tidak berniat melukai putrinya, tapi saya cukup yakin, ayah Alana ini bukanlah sekadar gambaran dalam kisah fiksi. Di Indonesia, status perawan itu masih dijadikan sebagai sesuatu yang sakral. Perempuan yang tidak perawan (meski dia jelas-jelas diperkosa) seakan sudah tidak berharga. YHA PADAHAL SIAPA SIH YANG MAU DIPERKOSA!?!

Momen "Mayday"

Sekarang marilah beralih pada hal lain karena saya ikutan emosi. :(

Jadi, sesuai judulnya, penulis ini mengambil tema 'momen mayday'  sebagai pondasi cerita. Idenya menarik, cuma terasa kurang cocok dengan kovernya. Melihat kovernya yang menggambarkan pramugari, pembaca akan membayangkan kisah Alana menjadi pramugari lebih banyak. Nyatanya tidak. Meski tentu saja impian Alana ini menjadi penggerak cerita juga.

Ketika membaca blurb, yang dialami justru beda lagi. Pembaca akan membayangkan kisah langsung dibuka dengan kejadian malam itu. Sayangnya, pembaca harus menunggu hingga halaman 55 sebelum konflik mulai bergulir. Saya sendiri merasa pembukaannya terlalu bertele-tele (karena sejak baca blurb yang ada dipikiran saya hanya "Gimana nasib Alana selanjutnya?").

Seiring cerita, penulis berusaha mengisahkan bahwa setiap pilihan selalu ada konsekuensi. Karakter Alana berhasil berkembang dalam menghadapi "momen mayday" dalam hidupnya. Karakter-karakter pendukung di sekitar Alana pun sama juga. Perkembangan ini akan jauh lebih baik jika saya merasakan emosi Alana lebih dalam.

Mayday, Mayday sendiri ditulis dengan baik. Kisahnya mengalir, meski suara "aku" milik Alana terkadang terkesan dingin dan tidak berperasaan. Kisah Alana juga ... cukup komprehensif buat orang yang mungkin awam soal peristiwa selepas pelecehan seksual. Saya jadi tahu lebih banyak soal aborsi dan adopsi anak. Cuma, sekali lagi, akan lebih baik jika emosi-keputusasaan-kesedihan Alana lebih diperdalam.

Terlepas dari itu semua, Mayday, Mayday ini berhasil menyampaikan pesan yang ingin di bawa penulis: momen mayday, semenghancurkan apa pun, selama kamu tidak putus asa atau sendirian, bukanlah akhir.
"Ketika kamu pengin banget memperjuangkan sesuatu yang kamu mau, satu kali kegagalan nggak akan bikin kamu berpaling dari cita-cita itu." (h. 38)
Penutup

Secara keseluruhan Mayday, Mayday adalah novel yang memuaskan. Tema yang diangkatnya nggak biasa untuk genre young adult. Penulis cukup berhasil mengisahkan cerita Alana dengan baik dan mengalir. Dan yang paling penting, penulis berhasil menyampaikan pesannya.

Sebagai penutup, sebuah kutipan yang (semoga bisa membangkitkan semangat siapa pun yang tengah mengalami momen mayday dalam pencapaian impian (meski semoga tidak semenghancurkan hidup seperti Alana).
"Kalau kita udah nggak punya alasan untuk menjalani hidup! Impian kitalah yang bisa menuntun kita." (h. 296)
Semoga kita tidak pernah berhenti menyerah! Selamat membaca!

Share:

0 comments