Pandada; Keseharian si Dewa Kucing Pandada


Pandada adalah dewa kucing. Meski dulu tempat tinggalnya sulit dijangkau, berkat perkembangan teknologi, semua orang (atau pun mahluk lain) bisa dengan mudah mencapainya. Alhasil, popularitas Pandada meroket dan statusnya sebagai dewa tergeser dengan statusnya sebagai idola maskot. Pandada pun meninggalkan hal itu semua sampai beberapa waktu yang cukup lama. Begitu Pandada kembali, tempat tinggalnya tak sama lagi. Keberadaannya sebagai dewa mulai dilupakan.

Lantas, bagaimana kehidupan Pandada selepas itu?

Komik Thailand

Pandada merupakan komik yang berasal dari Thailand. Selepas sukses dengan novel Thailand, Penerbit Haru merambah ke segemen komik. Sebagai komik Thailad pertama, Pandada punya banyak keunikan.

Pertama, Pandada punya gaya gambar yang sederhana tapi imut-imut. Pembaca bisa langsung melihatnya dari kover Pandada.

Kedua, Pandada tergolong komik yang sangat mudah dipahami. Pandada disajikan ala komik 4 koma atau 4 panel gitu. Hanya bedanya, dalam satu cerita tidak terbatas dalam 4 kolom komik saja. Panel yang sederhana (dan hanya berlanjut ke bawah untuk membacanya) membuat Pandada mudah dipahami oleh pembaca komik pemula (yang sering bingung dengan alur membaca komik saking banyak panel).

Ketiga, Pandada disajikan dalam format gabungan komik berwarna dan komik hitam putih. Bagian berwarnanya ini seperti highlight cerita. Perpaduan ini membuat harga Pandada tergolong ramah dikantong tapi tetap punya halaman yang penuh warna.

Ketiga, Pandada menyajikan kisah slice of life yang dibarengi komedi atau satir kehidupan. Setiap cerita pun ditutup dengan moral yang bisa diambil pembaca.

Keempat hal itu membuat Pandada menjadi komik ringan yang tetap mengandung pesan baik bagi pembaca. Dan juga cocok dibaca pembaca kalangan mana pun karena disajikan dengan sederhana. Bisa dibilang, penulis berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikannya lewat cerita si dewa kucing.

Keseharian Pandada

Dalam buku ini, pembaca akan menemukan 14 cerita keseharian Pandada.

Meskipun sudah banyak yang tidak ingat soal dewa kucing bernama Pandada sejak sang dewa pergi, masih ada segelintir manusia/mahluk lain yang tahu soal Pandada. Nah, di buku ini, pembaca akan menemukan pengunjung Pandada yang beragam. Mulai dari orang yang datang untuk meminta nasihat kehidupan, bertanya soal hal remeh, minta kekayaan, hingga ingin mengorbitkan Pandada sebagai idola.

Kisah-kisah Pandada dan pengunjungnya ini ada beberapa yang terasa lebay dan tidak masuk diakal, tapi ada juga yang saya yakin sangat cocok dengan pembaca. Ditambah lagi pada halaman penutup kisah, Pandada menyajikan kutipan (yang bisa berisi moral cerita, satir, sampai kata bijak semi komedi).

Saya pribadi suka cerita tentang artis komik dan certa ke-13 yang membahas soal kesepian. Meski favorit saya itu kutipan cerita ke-14:
Jika memungkinkan, tidur sianglah. Agar mimpi-mimpimu bisa menikmati sinar matahari. (h.186-187)
Salah satu keunikan dari buku ini tuh, si Pandada ini tidak berkomunikasi langsung dengan pengunjungnya. Pandada ditemai oleh dua kupu-kupu, yang menjadi perantara Pandada mengobrol dengan para pengunjung.

Penutup

Nah, sudah penasaran belum nih sama kisahnya si dewa kucing, Pandada?

Komik ini cocok banget buat bacaan ringan nih. Baik sudahbiasa maupun belum pernah baca komik, dijamin bisa menikmati kisah keseharian Pandada. Direkomendasikan sih untuk usia remaja ke atas karena ada beberapa topik cerita yang bisa jadi sesitif dan cukup mendalam.

Informasi Buku
Judul: Pandada
Penulis: Ong-Art Chaicharncheep
Penerbit: Haru
Tebal: 192 halaman
Genre: Komik, Komedi, Slice of Life

Share:

0 comments