A Hole in The Head; Misteri Hantu di Kamar 303

Judul: A Hole in The Head
Penulis: Annisa Ihsani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 halaman

A Hole in The Head bercerita tentang Ann yang berlibur ke penginapan ayahnya, Mönchblick Inn. Penginapan itu terletak di Lembah Lauterbrunnen dan merupakan salah satu penginapan paling ramai. Tetapi, itu dulu.

Sekarang, penginapan itu sepi karena kabarnya kamar 303 dihantui. Banyak pelanggan yang tidak betah dan berakhir meninggalkan Mönchblick Inn. Ann pada awalnya tentu tidak percaya, tapi ketika malam tiba, dia memang mendengar suara langkah kaki tanpa sosok. Dia juga merasakan aura tidak enak di sekitar kamar 303.

Pada akhirnya, Ann yang penasaran dan ingin membantu sang ayah berusaha menyelidiki misteri hantu di kamar 303. Ditemani Jo, cucu koki penginapan, Ann menyibak bayang-bayang hantu yang telah meninggal bertahun-tahun dulu.

Misteri Hantu di Kamar 303

Sebelum memulai, review, saya mau menceritakan premis utama novel ini. Yap, premis utamanya adalah misteri hantu di kamar 303.

Sebelumnya, Mönchblick Inn adalah penginapan yang selalu ramai. Penginapan itu memang tidak mewah, tapi menyuguhkan pemandangan yang indah dan pelayanan yang sangat bagus. Sayangnya, beberapa waktu belakangan banyak pelanggan yang tidak puas. Dimulai dengan aura tidak menyenangkan dari kamar 303 sampai suara langkah kaki tanpa sosok. Hal itu semua bermula ketika pohon, yang kabarnya digunakan sang hantu untuk gantung diri, ditebang untuk perluasan teras penginapan.

Ann sendiri pada awalnya merasa takut dengan hantu itu, Akan tetapi, dia juga merasa ingin membantu keluarga sang ayah. Ayah dan Ibu Ann berceria bertahun-tahun lalu dan sang Ayah tinggal bersama keluarga barunya. Lagi pula, Ann sendiri suka dengan Mama Nina, istri ayahnya.

Nah, Ann sendiri, seperti karakter-karakter lain di buku-buku Annisa Ihsani, adalah sosok gadis yang penuh ingin tahu. Dia juga cerdas dan tahu cukup banyak hal selain pelajarannya. Semua ini karena karakter ibunya. Sang ibu adalah ahli iklim, jadi bisa dibilang Ann tumbuh di keluarga ilmuan yang dekat dengan sains.

Karakter Ann ini tergambar dari cara gadis itu bercakap-cakap. Bisa dibilang, Ann ini sosok anak kecil yang sering membuat orang dewasa jengkel karena banyak bertanya atau membalas ucapan orang dewasa. Haha.
"Aku sudah bilang padanya aku tidak keberatan tinggal di rumah saja, tapi Ibu kan kenal Nenek. Dia bilang dia ingin memamerkanku ke teman-temannya. Memangnya aku ini guci pajangan?" (h. 17)
Supranatural dan Sains

Nah, dengan latar misteri hantu di kamar no 303 dan latar belakang keluarga Ann yang sangat sains, A Hole in The Head menjelma menjadi perpaduan keduanya.

Annisa Ihsani sendiri berhasil menyuguhkan kengerian yang harus dilalui Ann ketika menyelidiki kamarno 303. Berhubung belum lama saya membaca seri Lockwood & Co, saya merasa gaya Annisa Ihsani menceritakan soal klenik di kamar no 303 itu mengingatkan saya pada gaya Jonathan Stroud menceritkaan ketika ada hantu. Ada aura dingin, perasaan tidak nyaman yang timbul, dan kengerian terbentuk.

Apalagi novel ini ditulis dari sosok Ann, seorang gadis 13 tahun, yang baru kali ini mengalami kejadian mistis. Bacanya jadi ngeri-ngeri sedap.
"Tetapi, Nak, terkadang ada hal-hal yang melampaui jankauan indra kita. Dan di baliknya, kau akan melihat bahwa dunia ini lebih durmit daripada yang kaukira." (h. 77)
Nah, meski demikian, Annisa Ihsani menyeimbangkan dengan hal-hal sains sepanjang cerita. Ibu Ann, yang tengah terlibat proyek penyelamatan iklim di belahan dunia lain, sering bertukar surel dengan Ann. Dan lewat surel itu, pembaca dijejali dengan hal-hal sains yang menarik.

Dan hal-hal sains yang menarik itu, bukan hanya sekali lewat, tapi menggerakkan cerita.

Pembaca novel-novel misteri anak-anak, semisal buku-buku Enid Blyton, pasti bakal langsung merasa ada bau-bau petunjuk di segala penjuru A Hole in The Head. Ada pesan-pesan tersirat yang dijejalkan penulis sepanjang cerita untuk mengungkap misteri hantu di kamar no 303.

Dan akhirnya, A Hole in The Head menjelma menjadi novel misteri gabungan supranatural dan sains yang cukup mencekam tapi membuat penasaran.

Hal-Hal yang Kurang

Sayangnya, saya menyesali pilihan judul buku Annisa Ihsani kali ini. Saya mengenal Annisa Ihsani lewat bukunya yang berjudul bahasa Indonesia, A Untuk Amanda dan Teka-Teki Terakhir. Dan saya sangat salut pada penulis populer lokal yang menggunakan bahasa Indonesia untuk judul bukunya. Sayangnya, di buku ketiga, Annisa memilih judul berbahasa Inggris. Jadi, saya cukup kecewa.

Yah, tapi, Kepala Berlubang atau Lubang di Kepala memang tidak terdengar menarik seperti dua judul buku Annisa sebelumnya sih.

Lalu, kekecewaan saya satu lagi adalah akhir konflik yang disuguhkan. Entahlah, setelah diajak melalui petualangan misteri bersama Ann, akhir yang diberikan cuma terasa begitu saja. Saya mengharapkan sesuatu yang lebih seru, lebih drama, dan lebih ... penuh konspirasi (?) mengakhiri misteri di sana (apalagi kalau baca blurb-nya tuh). Sayangnya, hanya ada begitu saja. Jadi, yah, saya sedikit kecewa dengan akhir konflik yang diberikan.

Satu lagi yang membuat saya (sangat) kecewa adalah kovernya. Jelek. Titik.

Penutup

Novel ini saya rekomendasikan bagi pembaca yang menikmati buku-buku middle grade, terlebih buku-buku Enid Blyton. Atau pembaca yang menyukai kisah remaja yang tidak melulu menyoal cinta. A Hole in The Head jelas sebuah bacaan yang ringan tapi tidak ringan.

Selamat membaca!

Share:

5 comments

  1. […] Children Literature: Fortunately, The Milk – Neil Gaiman. A Hole in The Head – Annisa Ihsani […]

    ReplyDelete
  2. Saya telah memasukkan Annisa Ihsani sebagai penulis favorit setelah membaca Teka-Teki terakhir dan sedang berusaha mengumpulkan uang untuk membeli karya lainnya (karna sering tergoda buku yang lain jd gx terkumpul-terkumpul deh, hehe) ^_^
    Membaca review ini semacam jadi reminder untuk segera membeli buku ini setidaknya sebelum pergantian tahun yang masih 9 bulan lagi,,,
    Sebenarnya karakter Ann di A Hole in The Head, kesannya lebih dekat denganku sehingga pingin baca buku ini dulu tapi otak masih mengharapkan buku ini cetak ulang dulu dengan cover yang gak terkesan dark gitu sebelum aku benar2 membelinya,,, *^_^*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah semoga segera jodoh sama buku ini ya kak! Semangat terus nabungnya!

      Dan semoga lekas cetul dengan kover baru juga! Saya pribadi nggak suka sama kover ini huhu. Jelek gitu. Dan nggak sesuai juga sama isi ceritanya. Sayang banget. :(

      Delete
  3. Wah kirain saya doang yang lebih suka judul berbahasa indonesia buat novel lokal. Soalnya pas liat buku ini pertama kali, saya ngiranya ini buku luar gitu. Dan btw, berhubung belum pernah baca juga, saya malah jadi penasaran soalnya saya suka bgt buku lockwood and co. meskipun nggak sampai takut sih. Jadi pengin tau ngerinya buku ini wkwk. Tapi, untuk cover, lumayan lah nggak jelek jelek banget hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kan! Judul dalam bahasa Indonesia itu rasanya keren banget ya! Jarang sayangnya buat novel populer :(

      Ayo dibaca kak! Nggak serem kok ini, cuma ya dikiiiiit aja.

      Delete