The Storied Life of A.J. Fikry; Buku, Pembaca Buku, Penjual Buku, dan Manusia

Judul: The Storied Life of A.J. Fikry
Penulis: Gabrielle Zevin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 halaman
"Tahukah kau, tidak ada toko buku di kota kelahiranku?"
"Benarkah? Alice kelihatannya jenis tempat yang seharusnya memilliki toko buku."
"Aku tahu. Sebuah tempat kurang sempurna tanpa toko buku." (h. 212)
A.J. Fikry adalah pemilik satu-satunya toko buku di pulau Alice. Dia mengelola toko buku itu dengan istrinya, Nic, sampai satu hari Nic meninggal dalam kecelakaan. Sepeninggal Nic, hidup A.J. menjadi menyedihkan. Dia menjauhkan dirinya dari penduduk pulau. Dia toh hanya punya Nic di Alice. Lalu, penjualan buku di tokonya merosot tajam dan dia kehilangan Tamerlane yang langka! Lengkap sudah kemalangan A.J.

Sampai suatu hari A.J. mendapatkan paket misterius. Paket itu membuat hidup A.J. perlahan berubah. Perubahan yang memengaruhi hidup A.J., kepribadiannya, toko bukunya, hingga orang-orang pulau Alice.

Tentang Buku dan Pembaca Buku

Novel ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Namun, di halaman sebelum setiap bab ada cerita singkat yang ditulis dari sudut pandangan A.J. Cerita singkat ini berupa catatan A.J. atas sebuah cerita yang dibacanya.

Namun, bukan itu yang ingin saya bahas. The Storied Life of A.J. Fikry bercerita tentang A.J. Fikry, seorang pembaca buku dan penjual buku. Oleh sebab itu, saya merasakan kedekatan yang amat-sangat dengan karakter A.J. Sebagai seorang pembaca buku, A.J. menyuarakan kata hati saya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.
"Aku muak dengan novel-novel karya bintang televisi realitas yang ditulis penulis bayangan, buku foto selebriti, memoar olahraga, edisi dengan sampul poster, barang-barang koleksi, dan--kurasa ini tidak perlu dikatakan--vampir." (h. 18)
Begitulah. Dengan lantang A.J. mengatakan kemuakannya atas buku-buku yang biasanya populer. Saya jelas tidak berusaha mengerdilkan buku-buku itu (terlebih buku populer yang jelas menghidupkan penerbit dan penulis), tetapi saya jelas muak melihat buku sejenis berjejer rapi di seluruh bagian toko buku. Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?

Selain itu, A.J. juga menyuarakan kekhawatiran saya yang lain sebagai seorang pembaca buku. Kali ini berkaitan dengan penulis buku.
Ia berusaha menghindari pertemuan dengan para penulis buku yang disukainya, karena khawatir mereka akan membuatnya tidak lagi menyukai buku mereka. (h. 42)
Saya yakin bahwa buku adalah cerminan jiwa dan diri sang penulis. Entah bagian mana dan sekecil mana. Namun, kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa penulis pun seorang manusia. Dan manusia adalah tempatnya alpha. Dan manusia juga mahluk yang sentimental. Itu sebabnya tidak sedikit pembaca yang sentimen terhadap penulis berakhir sentimen juga terhadap karyanya, sebagus apa pun karya itu.

Meski demikian, A.J. juga menyampaikan hal yang sangat benar. Hal yang saya percayai sejak lama sebagai seorang pembaca.
Tapi aku juga berpikir reaksiku belakangan menunjukkan pentingnya menemukan kisah di waktu yang tepat dalam hidup kita. Ingat, Maya: hal-hal yang membuat kita tersentuh pada usia dua puluhan belum tentu sama dengan hal-hal yang membuat kita tersentuh pada usia empat puluhan, begitu pula sebaliknya. (h. 44)
Membaca buku adalah pengalaman pribadi. Dan pengalaman pribadi setiap orang jelas saja berbeda. Bisa saja sebuah buku meninggalkan kesan yang teramat mendalam bagi seseorang, tapi bisa jadi buku itu terasa biasa saja bagi pembaca yang lain. Saya sendiri sering mendapati kenyataan ini. Pengalaman membaca adalah sesuatu yang personal dan tidak bisa dibandingkan begitu saja antarpembaca.

Itu sebabnya saya percaya bahwa review buku tidak akan sepenuhnya objektif. Ada unsur perasaan yang memengaruhi penilaian seorang pembaca atas sebuah buku.

Tentang Buku dan Toko Buku

Sekarang saatnya masuk ke poin lain yang membangun cerita ini, yaitu toko buku. A.J. mengelola toko buku independen (yang semakin jarang terlihat di negara ini). Sebuah toko buku satu-satunya di pulau kecil.

Pengelolaan toko buku independen milik A.J. ini mengenalkan saya pada gambaran pengelolaan toko buku. Lewat karakter Amelia, wiraniaga seorang penerbit, saya juga tahu bahwa penerbitlah yang menawarkan buku-bukunya langsung ke pemilik toko buku. Lewat Amelia, saya tahu bahwa pekerjaan penerbit tidak sesederhana menerbitkan buku.

Sekarang jika kita berkaca pada kondisi Indonesia, toko buku A.J. yang kecil dan menyedihkan seharusnya sudah lama tidak survive. A.J. menggambarkan dengan sangat baik kondisi toko buku secara umum di belahan dunia mana pun.
A.J. kerap merenungkan bahwa semua hal terbaik di dunia sedikit demi sedikit dikerat lenyap bagaikan lemak dari daging. Pertama, toko kaset, kemudian toko video, kemudian surat kabar dan majalah, dan sekarang bahkan jaringan toko buku besar mulai lenyap di segala penjuru. (h. 228)
Hal yang membuat toko buku A.J. tetap hidup adalah kenyataan bahwa dia toko buku satu-satunya di Pulau Alice. Tentu saja modal A.J. untuk membangun toko bukunya tidak murah. Itu sebabnya hidup A.J. sendiri tidak bergelimang harta. Dia tinggal di apartemen kecil di atas toko bukunya. Dia makan makanan dingin. Dia jarang berpergian. Intinya, hidupnya semacam menyedihkan.

Namun, meski toko buku A.J. adalah toko buku satu-satunya, toko buku A.J. tetap menrasakan perkembangan zaman.
"Dua puluh dolar sepertinya sangat mahal. Kau tahu aku bisa membelinya dengan murah lewat online, kan? Sebaiknya kau menurunkan harga jika ingin tetap bisa bersaing." (h.49)
Ya. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Pesaing toko buku sekarang adalah toko-toko buku online, yang menyediakan harga jauh lebih murah bahkan kemudahan bernama "buku tinggal sampai ke depan pintu rumah". Saya sendiri termasuk penikmat toko buku online. Jadi, membaca sudut A.J. sebagai seorang penjual buku ini membuat saya berada di antara dilema.

Nyatanya, sekarang toko buku bertahan bukan semata dari penjualan buku. Alat tulis, peralatan olahraga, peralatan musik, tas-tas, dan lain-lain bisa dibilang menjadi penopang toko buku. Hal ini nyata terlihat dari ruang yang banyak untuk hal-hal nonbuku di toko buku.

Tentang Buku dan Manusia

Mari selesaikan pembahasan soal buku, pembaca buku, dan penjual buku. Mari kita masuk ke dalam cerita kehidupan A.J. Fikry.

Jadi, novel ini tidak hanya bercerita tentang buku saja. Novel ini bercerita tentang hidup A.J. Fikry, termasuk kehidupan cinta dan hal-hal personal lain dalam A.J. Fikry. Sejujurnya saya sangat-sangat tidak menyangka dengan apa yang terjadi dalam hidup A.J. Fikry ini. The Storied LIfe of A.J. Fikry punya cerita yang sangat romantis (dengan toko buku di pulau dan aspek kehidupan A.J. Fikry sendiri) sekaligus sangat hangat.

Perkembangan karakte A.J. Fikry yang awalnya pahit dan getir setelah kematian istirnya menjadi sosok yang baru menunjukkan bahwa "manusia bisa berubah" dan "manusia membutuhkan manusia lain".
Yang paling menjengkelkan tentang ini adalah setelah seseorang peduli kepada satu hal, ia harus mulai peduli tentang segala sesuatu. (h. 80)
Perubahan itu pun bukan hanya terjadi dalam hidup A.J. Fikry seorang. Saya senang sekali melihat satu perubahan membawa perubahan-perubahan lain di sekitar toko buku A.J. Fikry.
Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian. (h. 263)
The Storied Life of A.J. Fikry ini menyimpan twist yang tidak saya sangka-sangka. Sungguh. Salah satu blurb dan twist terbaik dari buku yang saya baca belakangan ini!

Terakhir

Saya sudah mengoceh sangat banyak tentang buku ini. Sebelum mengakhiri, saya akan berikat kutipan favorit saya terkait hal yang dipercayai A.J., yang juga saya percayai.
Maya, novel memang memiliki pesona tersendiri, namun ciptaan paling egelan dalam jagat prosa adalah cerpen. Kuasai cerpan dan kau akan menguasai dunia. (h. 258)
Dan kutiap penutup yang menunjukkan bahwa buku ini wajib dibaca oleh semua pembaca.
"Terkadang, buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat." (h. 101)
Direkomendasikan bagi seluruh pembaca di dunia! Bagi penyuka kisah-kisah romantis! Bagi penikmat cerita kontemporer! Bagi penjual buku! Bagi pembaca pemula maupun pembaca sastra! Kisah hidup A.J. Fikry akan menyentuh siapa pun yang sering bersinggungan dengan buku.

Selamat membaca!
"Maya, kita adalah yang kita cintai. Kita menjadi diri kita karena kita mencintai." (h. 265)

Share:

1 comments

  1. […] Name In A Book: Genduk – Sundari Mardjuki. The Storied Life of AJ Fikry – Gabrielle Zevin. […]

    ReplyDelete