Magnetto; Jatuh-Bangun Kehidupan Seorang Magne

Judul: Magnetto
Penulis: Ninna Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 halaman

Blurb

agne cuma tahu satu hal: dia benci orangtuanya. Keadaan tersebut membuat cewek itu berubah. Dia mulai melampiaskan amarahnya dengan berbuat onar di sekolah bersama teman-teman sekelasnya. Mereka menjalani kehidupan sebagai murid jurusan Jasa Boga dengan berbagai kenakalan yang menyenangkan. Seenggaknya hal itu mampu membuat Magne mengalihkan pikiran walau hanya sesaat.

Di tengah situasi tersebut, Magne mendapat masalah besar. Sialnya, masalah tersebut datang bertepatan dengan liburan tengah semester. Teman-temannya mendadak sibuk dan memiliki agenda lain. Bahkan, Netto—pacarnya—mulai berubah. Hal itu tentu saja membuat Magne merasa semua orang perlahan pergi meninggalkannya.

Lantas, mampukah Magne menyelesaikan masalahnya sendiri?

Review

Dari judul, saya mengira novel ini akan banyak bercerita tentang hubungan Magne dan sang pacar, Netto. Secara kan judulnya Magnetto. Selain itu, saya pikir keduanya entah melakukan sesuatu yang gila, membuat keonaran besar, atau gimana gitulah, ya. Habis judulnya mirip nama villain terkenal dari franchise terkenal X-Men itu, Magneto. Namun, nyatanya tidak.
Magnetto lebih banyak mengandung konflik keluarga. Tepatnya keluarga Magne. Sejak lama kedua orangtua Magne selalu berselisih, tidak pernah akur, tidak pernah lagi seperti dulu. Keduanya pun semakin jarang di rumah. Apalagi untuk Magne.
"Manusia memang butuh uang, tapi mereka jauh lebih membutuhkan kasih sayang." (hlm. 13)
Begitulah. Konflik utama dalam novel ini adalah keluarga Magne. Dari sisi Magne, pembaca akan menyadari bagaimana perasaan seorang anak ketika melihat kedua orang tuanya senantiasa bertengkar. Kondisi keluarga yang nyaris hancur itu membuat Magne sering membuat onar. Meski demikian, saya salut pada karakter Magne yang digambarkan sanggup bangkit. Magne menyadari bahwa meskipun keluarganya hancur, dia senang membuat onar, dan nilanya merosot karena tidak pernah diperhatikan, masa depannya tidak patut dipertaruhkan. Saya suka pada pemikiran Magne.

Akan lebih baik lagi jika pemikiran inilah yang dikembangkan dalam cerita, menurut saya. Karena dalam novel ini pembaca hanya diberitahu, pembaca tidak melihat bagaimana Magne menyadari masa depannya penting dan kembali berusaha mendapatkan paling tidak nilai cukup di sekolah.

Selain itu, saya merasa penyelesaian konflik Magne ini terlalu ... cepat. Maksudnya dia sadar bahwa penyelesaian masalah kedua orang tuanya hanya itu terlalu cepat gitu. Gejolak dalam diri Magne kurang terasa, meski di awalnya dia sangat-sangat-sangat menolak. Begitu mendengar nasihat dari sahabatnya, Magne langsung diberi kesadaran. Sayang banget padahal ini bisa dieksplorasi lebih dalam dan membuat karakter Magne lebih reliable.
"Gue ngerti kalau perpisahan kadang membuka jalan bagi kebahagiaan." (hlm. 241)
Hal paling menarik dari novel ini adalah latar yang dipakai. Magne adalah murid SMK Jurusan Tata Boga. Sebuah latar tempat yang tidak biasa dalam dunia teenlit. Latar ini membuat Magnetto menjadi novel yang kaya informasi. Pembaca akan menemukan banyak hal seputar SMK yang sebelumnya mungkin asing. Lalu, pembaca juga akan mendapatkan banyak resep masakan yang menarik untuk dicoba!

Yup, Magnetto mengandung makanan-makanan yang membuat ngiler. Belum lagi Magne bercerita resep itu seolah begitu mudah dimasak. Padahal kan ya belum tentu juga ya, ahahaha.

Secara keseluruhan, Magnetto sedikit mengecewakan karena judulnya tidak berarti apa pun selain kemiripan dengan Magneto. Namun, novel ringan ini cukup memuaskan dibaca sekali duduk. Cocok banget buat yang mencari cerita ringan tentang kehidupan seorang gadis di tengah keluarga yang terkena badai.
"Kadang kejujuran memang menyakitkan. Tapi nggak semua yang menyakitkan itu akan berakhir buruk." (hlm. 170)

Share:

1 comments

  1. […] Karina. Me, Earl, and The Dying Girl – Jesse Andrews. Welcome Home, Rain – Suarcani, Magnetto – Ninna Lestari. Stand Night War – Nisrina […]

    ReplyDelete