[GLAZE BLOG TOUR] Ngobrol Bersama Windry Ramadhina


Halo! Semoga masih semangat meski ini periode blogtour terakhir ya. ;)

Seperti di blog-blog sebelumnya, pada postingan pertama ini saya bakal menuliskan hasil obrolan saya bersama dengan sang penulis novel Glaze, Mbak Windry Ramdhina. FYI, Mbak Windry adalah salah satu penulis Indonesia favorit saya. Beliau adalah salah satu penulis yang membuat saya membaca novel-novel lokal dan selalu saya nantikan novel-novelnya.

WINDRY RAMADHINA

Windry Ramadhina lahir dan tinggal di Jakarta; pencinta kucing hitam dan segal ahal yang berbau seni. Dia menulis fiksi sejak 2007. Glaze adalah bukunya yang kesepuluh. Sebelm itu, dia menerbitkan Orange (2008), Metropolis (2009), Memori (2012), dan Montase (2012), London (2013), Interlude (2-14), dan Walking After You (2014), Last Forever (2015), dan Angel in The Rain (2016).

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat:
Email windry.ramadhina@yahoo.comTwitter @windryramadhinaInstagram @beingfayeBlog www.windryramadhina.com

Anyway, Mbak Windry suka ngasih teaser novel-novel barunya di blog. Jadi, jangan lupa kepo blog beliau yak. Selain itu, Mbak Windry juga suka menggambar jadi kepo juga instagramnya buat lihat hasil karya (khususnya karakter-karakter dari novelnya!). :D

PS. Foto nemu di instagram. Semoga Mbak Windry nggak keberatan saya comot fotonya.


Nah, sekarang saatnya ngobrol cantik bareng penulis cantik satu ini. Saya sangat-sangat menikmati sesi wawancara ini (meski ada sedikit masalah teknis sehingga jawaban sampai ke saya cukup mepet >.<).

Seperti biasa, saya bakal membuat pertanyaan saya berbeda dengan jawaban dari Mbak Windry. Pertanyaan saya akan ditandai dengan warna ini sedangkan jawaban Mbak Windry dengan warna ini. Semoga kamu menikmati sesi ngobrol saya!

1. Halo, Mbak Windry! Senang sekali bisa mewawancarai dalam kesempatan ini! Pertanyaan pertama dari saya, pada buku kali ini Mbak Windry mengangkat dunia tembikar sebagai latarnya, darimanakah Mbak Windry mendapatkan ide cerita Glaze? Saya ingat ketika membaca Walking After You dan mendapatkan cerita soal gadis kembar yang menjadi inspirasi.
Bibit ide cerita Glaze datang dari salah satu novel klasik Indonesia: Layar Terkembang. Dalam akhir cerita novel tersebut, seorang perempuan menyerahkan kekasihnya kepada saudarinya sebelum dia meninggal. Dalam Glaze, hal itu menjadi awal cerita (tentunya dengan latar belakang berbeda yang saya cari sendiri). Konflik dikembangkan dari titik itu, berpusat kepada reaksi Kalle saat dititipkan Kara oleh Eliot. (Lho sumber idenya unik banget, nggak nyangka dari novel Layar Terkembang!)
Layar Terkembang itu sendiri diangkat oleh Christian Simamora saat dia mengajak saya bekerja sama dengan Roro Raya (Twigora)Menurut saya, ini cara mencari ide yang cukup menarik. Ternyata, satu fragmen dari sebuah cerita bisa menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda lewat cerita lain.

2. Biasanya darimanakah Mbak Windry mempelajari soal latar cerita? Apakah ada trik khusus sehingga Mbak Windry bisa membuat latar cerita (dalam kasus Glaze dunia tembikar) ini terasa hidup? (Saya selalu suka buku-buku Mbak Windry yang mengambil latar yang ada dan menuliskannya seolah memang benar-benar ada.)
Untuk Glaze, saya melakukan pengamatan mengenai seni tembikar. Saya memiliki beberapa kenalan seniman yang bisa memberi saya akses pengamatan tersebut. Saya melihat lokasi pekerjaan dan mencari tahu filosofi atau cara berpikir beberapa seniman keramik lewat wawancara. Saya juga mencari tahu tentang bahan dan peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat keramik.
Hasil pengamatan saya gunakan untuk mengembangkan sosok Kara, menciptakan situasi rumah dan lingkungan kerjanya, menentukan aktivitasnya sehari-hari, menciptakan adegan-adegan khusus, dan banyak hal lain. Pengamatan diperlukan dalam menulis karena itu sumber informasi bagi saya. Tanpa informasi yang cukup, saya tidak bisa menggambarkan dunia Kara dengan baik kepada pembaca. (Sepakat! Pantas saja novel-novel Mbak Windry terasa hidup dan nyata. Risetnya nggak main-main.)

3. Bolehkan saya tahu siapa karakter paling berkesan yang Mbak Windry ciptakan? Tentu saja tidak terbatas pada karakter di novel Glaze. Saya selalu penasaran.
Saya punya kedekatan dengan semua karakter, bahkan mereka yang hanya pendukung cerita atau tokoh antagonis. Saya menyukai mereka semua. Saya selalu kesulitan apabila ditanya mengenai siapa yang paling berkesan. Tetapi, kalau kamu bertanya siapa yang paling berkesan bagi saya saat ini, maka jawabannya adalah Gilang dari London: Angel dan Angel In The Rain. Musim hujan baru mulai dan hujan selalu membuat saya terkenang kepadanya. (SAYA JUGA SUKA BANGET SAMA GILANG!)

Saya menyukainya karena dia penuh dengan kekurangan. Dia tidak keren, tidak berprestasi, tidak punya posisi, tidak punya banyak uang juga. Tetapi, dia punya harapan dan keluguan akan hal itu. Saya iri kepadanya. Dia tidak bisa sinis terhadap sesuatu. Dia bahkan tidak bisa membenci orang yang merebut cinta pertamanya. Lugu atau bodoh, saya tidak bisa menentukan. (Wahaha, saya juga nggak tahu pasti apa Gilang itu lugu atau bodoh. Yang jelas, terima kasih sudah menciptakan Gilang, Mbak! Saya selalu terkenang padanya begitu hujan juga :'D)

4. Dulu sekali saya pernah membaca tweet bahwa beberapa novel Mbak Windry memang memungkinkan memiliki kelanjutan, semisal London yang dilanjutkan dengan Angel in The Rain. Mbak Windy juga bilang bahwa ada novel yang memang sudah final, semisal Memori. (Semoga saya tidak salah ingat.) Nah, Glaze masuk kategori mana? Apakah ada kemungkinan novel ini berlanjut?
Sayangnya, Glaze tidak akan memiliki saudara. Saya tipe penulis yang merencakan segalanya. Dan, sejak awal, saya menyiapkan Glaze hanya sebagai buku tunggal. Konflik yang dialami Kara dan Kalle selesai di akhir cerita dan tidak ada yang tertinggal di sana sama sekali. Sama seperti Memori. Jadi, tidak akan ada sekuel.

Tetapi, Kara (hanya Kara) adalah tipe tokoh yang bisa dengan mudah disisipkan di cerita lain. Bisa saja suatu saat dia akan muncul sekilas atau ambil bagian dalam buku-buku saya berikutnya sebagai tokoh pendukung. (Entah kenapa jadi menanti-nantikan ini. Saya suka melihat Ayu muncul di Walking After You. Semoga nanti Kara muncul di novel lain dengan penuh kebahagiaan.)

5. Kebanyakan cerita Mbak Windry selesai di satu buku dan jawaban Mbak membuat saya semakin yakin. Namun, apakah mereka, karakter-karakter dalam buku Mbak, tidak pernah mendadak muncul dalam kepala meminta mereka dituliskan? Terlebih Kara dan Kalle yang belum lama Mbak selesaikan. Apa mereka tidak pernah menghantui Mbak ketika menulis cerita yang baru?
Tokoh-tokoh yang saya tulis memang terkadang masih tinggal di kepala saya setelah buku diterbitkan. Biasanya kedekatan saya dengan mereka masih terasa sampai saya memulai menulis buku lain. Begitu saya menulis buku lain, seringnya bayangan mereka pergi dengan sendirinya karena saya telah terhubung dengan tokoh baru. Saya cenderung mudah jatuh cinta dan mudah pula beralih. (Woah, saya juga! Itulah mengapa saya rata-rata menyukai buku Mbak dengan kadar yang sama. Yah, kecuali Memori karena itu favorit banget!)

Walau begitu, ada kalanya tokoh-tokoh lama datang lagi tiba-tiba dan membuat saya sedikit kangen, seperti Hanna dan Kai (Interlude) , Rera (Orange) , Rayyi (Montase), Samuel (MontaseLast Forever). Mereka tokoh-tokoh yang terkadang "meminta" cerita kepada saya. Dan, barangkali suatu saat saya akan memberikannya. Tetapi, saya tidak pernah menjanjikan apa-apa. (OMG OMG! Bagaimana Mbak bisa bertahan? Saya saja sangat kangen dengan--dari daftar itu--Rayyi. Hiks. Saya nggak membutuhkan tulisan yang panjang. Pendek saja cukup. Semoga suatu hari Mbak Windry benar-benar akan menceritakan mereka lagi. Bolehkah saya berharap? :")

Nah, bagaimana? Apa kamu sama berharapnya dengan saya pada cerita tentang karakter-karakter di novel Mbak Windry yang sebelumnya?

Kalau iya, maka jangan lupa banyak berdoa dan tentu saja dukung Mbak Windry dalam setiap novel barunya!


Kamu juga bisa membaca obrolan Mbak Windry dengan host yang lain lho. Cek blog-blog di bawah ini yak! :)

26 – 27 September: Asri Rahayu MS
URL Blog: www.peekthebook.com

28 – 29 September: Afifah Mazaya
URL Blog: www.theladybooks.com

30 September – 1 Oktober : Putri Utama
Url Blog : http://perpetualromanza.com

1 – 2 Oktober: Bintang Permata Alam
URL Blog: www.ach-bookforum.blogspot.co.id

3 – 4 Oktober: Sri Sulistyowati
URL Blog: http://www.kubikelromance.com/

5 – 6 Oktober: Farida Endah
URL Blog: https://vaaridapunya.blogspot.co.id/

7 – 8 Oktober: Wardahtuljannah
URL Blog: melukisbianglala.wordpress.com -- KAMU DI SINI!

Psssst, bakal ada giveaway di setiap blog host lho! Termasuk di sini! Makanya cek semua blog untuk kesempatan menang lebih besar.

Share:

30 comments

  1. Heni Susanti7/10/17 18:28

    Jujur saja aku belum pernah membaca karya Mbak Windry tapi membaca interviewnya dan mendapati bagaimana Mbak Windry terikat dengan tokoh-tokohnya membuatku salut dan kagum. Jadi ingin mengenal sendiri bagaimana mereka.

    ReplyDelete
  2. Wah ayo dibaca buku-bukunya Mbak Windry kak

    ReplyDelete
  3. […] komentar di Ngobrol Bersama Windry Ramadhina dan review Glaze. Komentar tidak boleh oneliner, […]

    ReplyDelete
  4. Rimadian Ulfa Yusfia8/10/17 14:47

    Dari dulu jaman SMP udah sering muncul tentang Layar Terkembang, terutama di mata pelajaran b.indo. Tapi aku baru tau kalau ending ceritanya ternyata seperti itu. Dan mengenai ceritanya yg dijadikan ide dari Glaze, aku benar-benar jadi penasaran sumpah. Soalnya, novel-novel jaman sekarang biasanya terinspirasi dari kehidupan jaman sekarang, maksudnya biasanya ide cerita suatu novel muncul dari hal-hal yang lagi ngetren saat ini. Walau nggak mesti juga sih, hehe. Tapi intinya, aku jadi pengin tahu seperti apa isi novel Glaze yang seolah-olah menggabungkan kisah yang udah lama dengan latar belakang baru. Pengen baca..

    ReplyDelete
  5. Dari sekian banyak novel dan karakter yang diciptakan oleh mbak Windry, belum satu pun yang pernah saya baca. Tapi saya berharap bisa berkesempatan memiliki salah satu novelnya, seperti Glaze ini.

    Dari novel-novel lain yang saya miliki dan favoritkan, saya tentu berharap jika novelnya dibuatkan kelanjutannya, apalagi jika karakter yang diceritakan juga menarik dan saya sukai. Sepertinya saya juga akan berharap seperti itu jika saya membaca novel Glaze ini.

    ReplyDelete
  6. wow aku gak nyangka inspirasi Glaze dari Layar Terkembang! aku baca buku itu pas SMP dan aku suka sama ceritanya. tokoh fav-ku yang aktivis itu lho, si kakak kalo gak salah. maklum udah lama banget jadi lupa haha. waktu aku baca Layar Terkembang, jujur aku merasa lah gitu doank endingnya? karena kak Windry ngambil start Glaze dari ending Layar Terkembang, mungkin aku bisa ikut bayangin sekuel (?) Layar Terkembang haha πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  7. Elsita F. Mokodompit9/10/17 12:02

    Aku jujur belum tau banyak tentang buku ini. Dan, dunia tembikar yang disinggung di atas bener-bener bikin penasaran. Bikin inget sama anim Glasslip yang merupakan dunia kaca. Beda sih, tapi sama-sama unik dan menarik. Juga, aku dapat ilmu tentang bagaiamana menciptakan katakter yang bagus dalam novel yang bisa lebih hidup lewat wawancara ini. Terima kasih :))

    ReplyDelete
  8. rizqimuthi9/10/17 12:51

    Setelah baca tulisan ini, saya jadi ingin membeli semua novel karya Mba Windry Ramadhina. Jujur saya belum pernah membaca buku karyanya, kebanyakan buku yang saya baca merupakan terjemahan. Nah setelah baca tulisan ini saya jadi ingin sekali memulai membaca buku lokal,dan di awali dengan membaca buku karya Mba Windy Ramadhina. Ya,semoga saja saya menang dalam giveaway ini 😊. Semangat terus untuk Mba Windy Ramadhina😊

    ReplyDelete
  9. Menarik sekali bagaimana seorang penulis mempunyai kedekatan dengan karakter tokoh dalam tulisannya, sampai bisa kangen, seakan-akan mereka hidup ya.

    Sebenarnya aku belum pernah baca karya kak Windry. Dari wawancara ini jadi tertarik mencari buku kak windry sebelumnya. Apalagi pada karakter tokoh yang menjadi favorit. :D

    ReplyDelete
  10. @HamdatunNupus9/10/17 23:18

    Ahh, saya pikir cuma saya yang merasa tokoh-tokoh yang pernah saya buat dalam satu cerita (cerpen) terasa nyata dan saya bisa berkomunikasi dengan mereka. mencomot jiwa mereka untuk satu kisah ke kisah lainnya...meski saya belum pernah membaca karya kak Windry untuk yang ini saya sangat antusias untuk membacanya, dan setelah glaze bisa jadi karya-karya ka Windry yang lain bisa saya nikmati juga

    ReplyDelete
  11. Aku adalah penikmat karya-karya kak Windry *aku berdoa semoga suatu saat bisa bertemu dengannya...Aminn><* . Aku menyukai cara dia mengasah ingatan para pembaca melalui tokoh-tokoh dalam setiap bukunya. Tokoh sama akan muncul di judul buku lain, meskipun hanya kameo (tokoh sampingan/muncul sekilas). Setelah usai membaca, aku selalu teringat-ingat beberapa adegan dan momen dari buku nya..

    Aku juga kagum pada gambar-gambar ilustrasi kak Windry yang kereeeeeen banget. Aku jadi tahu penggambaran bentuk fisik tokoh-tokoh tsb di benak penulisnya..

    Aku paling suka London, orange, walking after you.. 😍😍😍

    ReplyDelete
  12. Ide 'menitipkan' kekasih kepada saudara kandungnya ini juga pernah aku temui di salah satu cerita, ada pula orang yang aku kenal melakukan hal serupa dalam kehidupan nyata. Makanya rasanya nggak sulit membayangkan apa yang terjadi sama Kara dan Kalle.
    Oya, aku baru baca novel mbak Windry yang Interlude dan Last Forever. Melalui dua novel ini, aku langsung jatuh cinta dan selalu berharap segera mengoleksi semua karya mbak Win. Aku setuju banget kalo tokoh-tokoh cerita di novel mbak Win sebelumnya diberikan cerita baru lagi. Aku juga kangen mereka :')

    ReplyDelete
  13. Hana rahmalia11/10/17 05:48

    Uwaaaa... aku salah satu fan dari ka Windry sih. Hampir semua novelnya sudah kubaca kecuali Walking After You (karena udah gak ada di toko buku manapun yang kucari) dan Glaze ini. Penasaran sih sama yang ini, sangat!! Karena apa yah, tulisan ka Windry itu gak pernah mengecewakan. Selalu punya kesan buat aku setelah baca salah satu bukunya. Pemilihan kata dalam penulisan novelnya juga bikin jatuh cinta bangeeet, kalau udah baca buku ka Windry gapernah lepas sampai selesai! Aku excited sih kalau tokoh-tokoh seperti Samuel, Rayyi, dll itu akan dimunculkan di buku yang lainnya... pengin tau aja gitu penasaran xD daaan tokoh favorit aku juga Gilaaaang!!! Dia itu hebat banget punya keyakinan akan suatu hal yang dia bener-bener yakini akan hal tsb. Gilang juga sederhana tapi dengan kesederhanaannya itu yang bikin kusukaaa;;) pokoknya buku favorit aku sih Angle In The Rain, karena itu maniiis banget ish sukaaa. Semoga bisa baca buku Glaze juga, aamiin.

    ReplyDelete
  14. Fitra Aulianty11/10/17 07:00

    Suka sekali dengan wawancara ini. Aku jadi ikut ngerasain gimana perasaan Kak Windry sebagai penulis yg cinta banget sama karakter buatannya. Sudah punya Angel in The Rain, tapi belum baca xD jadi gak sabar pengen liat kenapa Kak Windry dan Kak Wardah segitu cintanya sama Gilang xD

    ReplyDelete
  15. Selalu suka dengan detail informasi terkait dunia yang digeluti tokoh2 ciptaan Kak Windry. Karena menyinggung London, jadi keinget belum sempet beli "Angel in The Rain". Semoga segera dapet rezeki buat beli. *Sekarang lagi natep novel "London" dengan iba,,,

    ReplyDelete
  16. Ayo dibaca kisah Gilang! Nggak bakal kecewa yakin deh!

    ReplyDelete
  17. Wah saya malah belum pernah nemu di kehidupan nyata soal hal itu xD

    ReplyDelete
  18. Novel Mbak Windry gaya nulisnya sangat baku sehingga mirip terjemahan. Sepertinya kamu bakal suka :D

    ReplyDelete
  19. Fitri Laily12/10/17 04:25

    "Saya punya kedekatan dengan semua karakter, bahkan mereka yang hanya pendukung cerita atau tokoh antagonis. Saya menyukai mereka semua."
    Kak Windry ini "pencipta" yang penyayang dan adil ya. Hehe...
    Oh iya, berapa lama waktu yang Kak Windry butuhkan untuk menyelesaikan novel Glaze? Terus novel mana yang paling cepat dan yang paling lama menyelesaikannya? :)

    ReplyDelete
  20. Membaca tulisan ini saya mulai penasaran dengan buku Glaze, tak hanya buku Glaze saya pun merasa ingin memiliki setiap buku yang dikarang oleh mbak Windry karena sepertinya gaya dan pemikiran mbak Windry dalam setiap tulisan itu sangatlah unik dan belum saya temui dari penulis lain. Dan jika punya kesempatan saya ingin menjadi salah satu dari orang-orang diatas yang berkesempatan untuk bertanya dan pertanyaan itu dijawab langsung oleh mbak Windry.

    ReplyDelete
  21. Sampai saat ini masih aja penasaran sama London. Ternyata di wawancara di atas pun disebutkan kalau Gilang dari London sebagai tokoh yang paling cucok meyong. Hih, makin penasaran aja sama London kaaaan :( Sayangnya temenku ga ada yg punya novel London buat kupinjam hiks.
    Dari yg kuingat, Mbak Windry pandai menciptakan tokoh yg bikin pembacanya mudah teringat dengan mereka. Nanti kalau kapan2 aku lewat toko keramik & tembikar, mungkin bakal langsung keinget sama tokoh di Glaze kalau sudah baca :D

    ReplyDelete
  22. Sebelumnya aku belum pernah baca novel atau sekedar reviewnya, yang tokohnya itu berprofesi sebagai pembuat keramik. Dan biasanya yang menggeluti profesi ini juga orang-orang yang sudah tua. Tidak menyangka novel ini akan mengangkat profesi itu, unik sekali menurutku. Dan penulisnya juga melakukan riset yang sangat dalam.
    Ngomong-ngomong, kok aku jadi ngeri ya membayangkan tokoh-tokoh itu menghantui penulis dan meminta 'ditulisi' kisahnya? Kesannya jadi horor loh Kak, seakan-seakan tokohnya benar-benar hidup😱 Apa kabar jika tokoh-tokohnya dari cerita horor ya?

    ReplyDelete
  23. Eh ketinggalan mau bilang, Mba Windry cantik banget yah😍

    ReplyDelete
  24. Membaca ini saya jadi paham kenapa tulisan Mbak Windry selalu 'total'..
    Btw, saya juga suka sekali sama Gilaaang!! Aaak, jadi kangen Gilang nih..

    ReplyDelete
  25. shespicaforest13/10/17 14:31

    Selalu salut sama penulis yg mendapatkan ide unik dgn sudut pandang berbeda. Biasanya alur cerita yg dihasilkan pun gak itu lagi-itu lagi. Gak nyangka juga udah banyak karya yg dihasilkan kak winny. Saya cuma tahu satu aja, dan itu pun pinjem punya temenπŸ˜‚πŸ˜‚
    Congrat buat novel terbarunya!😁

    ReplyDelete
  26. Jujur aku baru baca 2 karya kak windry. Orange dan Montase. Ini berkebalikan banget endingnya. Tapi aku jatuh cinta sama keduanya. Aku sampai kena reading slump karna gak bisa move on dari RayyiπŸ˜₯. Aku gak nyangka novel ini terinspirasi dari novel lama Layar Terkembang.
    Salut sama mbak Windry yang punya banyak referensi dan observasi dlm menghasilkan tulisannya πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  27. Saya sangat gemar membaca, ada dimana saya bisa memahami segala macam orang dan tokoh tanpa saya bertemu mereka. Terkadang saya pun banyak menebak nebak karakter penulisnya, jujur saya belum pernah membaca buku karya Windry, tapi mungkin dengan saya membaca karya saya bisa mengenal lebih banyak karya Windry. Terimakasih sudah hadir sebagai penulis, dan menambah berbagai macam buku didunia penulisan.

    ReplyDelete
  28. wah Layar Terkembang, pernah diobrolin sama nyokap dan aku nggak tau apa2 ><

    huaaaa, aku setuju sama pendapat ttg Gilang. soalnya cuma baca AITR doang, jadi penasaran sama buku kak Windry yang lain...
    penasaran sama gaya kepenulisan kak Windry yg seringkali membuat orang candu, terlebih tembikar yang jarang dilirik

    ReplyDelete
  29. Karakter gilang di angel in the rain merupakan salah satu alasan saya menyukai tulisan mbak windry disamping cara penulisannya yang terkesan baku ya... Memang sosok gilang di angel in the rain itu bikin jatuh hati apalagi klo ingat panggilan bronte yg ditujukannya ke ayu... :D

    ReplyDelete
  30. Kai !!! Kangen sama Kai!!
    *Sante sis santeee*
    Waktu aku tau ini idenya soal tembikar, aku lgsung inget kecamatan Bayat. Daerah itu aku lewatin setiap pulang kampung. Dan di sana pusat pembuatan tembikar. Aku langsung ngebayangin lokasi itu, hehe. Tapikan kayanya beda yah, nggak ndeso2 amat gitu ini latar novelnya πŸ˜…
    Daaan, satu hal lagi, aku masih suka kagum dan pengen tau gimana rasanya dihantui tokoh cerita kita sendiri. Aku belum pernah soalnya ._.
    #ehgimana

    ReplyDelete