[GLAZE BLOG TOUR] Glaze; Kerelaan dan Pengampunan di Antara Tembikar

Judul: Glaze
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Roro Raya Sejahtera
Tebal: 400halaman

Blurb
Seperti glasir di permukaan keramik, aku merasakanmu sepanjang waktu.
Mataku tak lelah menatapmu, diam-diam mengabadikan senyumanmu di benakku.
Telingaku mengenali musik dalam tawamu, membuatku selalu rindu mendengar cerita-ceritamu.
Bahkan ketika kita berjauhan, aku selalu bisa membayangkanmu duduk bersisian denganku.

Seperti glasir di permukaan keramik, kepergianmu kini membungkusku dalam kelabu.
Ruang di pelukanku terasa kosong tanpa dirimu.
Dadaku selalu sesak karena tumpukan kesedihan mengenang cintamu.
Bahkan ketika aku ingin melupakanmu, bayanganmu datang untuk mengingatkan betapa besar kehilanganku.

Aku menyesal telah membuatmu terluka, tapi apa dayaku?
Aku yang dulu begitu bodoh dan naif, terlambat menyadari kalau kau adalah definisi bahagiaku.

Kepergian Elliot

Glaze dibuka dengan muram. Pemakaman. Tangisan.

Kalle adalah seorang pebisnis muda yang super sibuk mengurus perusahaan keluarga. Kara adalah seniman keramik yang mengenal dunia sebatas rumahnya. Sedangkan Elliot adalah seorang yang membuat keduanya bertemu.

Elliot adalah adik Kalle dan kekasih Kara. Dan Glaze dibuka dengan kematian Elliot.
Begitulah kira-kira gambaran cerita dalam novel setebal 400 halaman ini. Glaze sendiri ditulis dari sudut pandang orang pertama yang bergantian antara Kalle dan Kara. Ya, Windry Ramadhina menuliskannya dari dua sudut pandang kedua tokoh utama. Dan saya benar-benar merasakan perbedaan kedua karakter ini. keduanya sama-sama menyebut dirinya ‘aku’ tapi saya tidak sekalipun kesulitan membedakan mereka. Begitu mulai mengenali suara Kalle, saya langsung tahu ‘aku’ mana yang miliknya. Begitu pula untuk Kara. Jadi, saya super salut pada penulisnya untuk hal ini. Keren banget!

Suara ‘aku’ mereka pun sangat menggambarkan karakter mereka. Kalle adalah karakter yang getir dan sinis. Terakhir kali saya ingat karakter penulis yang seperti ini adalah Rayyi. Yah, keduanya tidak mirip, tapi saya merasa keduanya merasakan kegetiran yang sama.
Memangnya, siapa yang mau bertamu? Teman? Aku tidak terlalu suka bermain teman-temanan. (h. 45)
Kalle pun terasa semakin getir selepas kepergian Elliot. Lelaki itu menyimpan luka atas kepergian sang adik.

Sedangkan Kara … sejak awal karakternya sangat sendu. Saya bisa merasakan efek kepergian Elliot dalam hidupnya. Lewat kata-kata Kara saya langsung menyelami karakternya. Dia kikuk. Dia tidak teratur. Dan dia sangat-sangat kehilangan Elliot.
Mengapa dia tega tersenyum seperti itu sementara Elliot sudah tidak ada? (h. 73)
Sepanjang membaca Glaze, pembaca akan diajak menyelami dunia Kalle dan Kara. Keduanya begitu berbeda. Keduanya juga menyikapi kepergian Elliot dengan berbeda. Keduanya sama-sama membuka Glaze dengan muram. Namun, lama-kelamaan kemuraman itu menguap. Memang masih ada kesedihan di sana-sini, tapi Glaze menjadi lebih ringan. Dan saya sama sekali tidak sadar!

Saya hanya penasaran dengan luka Kalle. Saya hanya ingin tahu tentang Kara dan pekerjaannya yang tidak biasa (seniman tembikar! Wow!).

Dunia dalam Glaze

Dan seperti biasa. Dunia dalam novel-novel WIndry Ramadhina begitu hidup. Saya merasakan bagaimana hasil riset penulis. Saya merasakan realita dalam novel itu. Lokasi-lokasinya memang tidak familiar untuk saya yang tinggal di luar Jakarta dan sekitarnya, tapi saya bisa merasakan kebenaran lewat perjalanan Kalle dari Jakarta ke Bogor.

Bukan hanya itu, dunia yang paling terasa adalam dunia Kara. Dunia seni tembikar. Saya tidak pernah sekali pun mengetahui bahwa tembikar bisa begitu indah jika saya tidak membaca Glaze. Saya sangat merasakan kedalaman riset penulis.
“Saat membuat keramik, kita memindahkan sebagian jiwa kita ke dalamnya. Jiwa yang bahagia menghasilkan keramik yang bahagia. Jiwa yang muram menghasilkan keramik yang muram.” (h. 178)
Alat-alat yang digunakan Kara sangat asing, tapi saya justru jadi penasaran. Saya memang tidak buta-buta banget. Saya pernah membuat tembikar (meski jelas tidak seserius Kara dan murid-muridnya) ketika sekolah dasar dulu. Namun lebih banyak yang baru bagi saya. Dan saya sangat menikmati cara penulis menceritakan dunia ini.

Sebagian pembaca bisa jadi merasa novel ini berbeda dengan novel-novel Windry Ramadhina yang lain. Ya, narasi dalam novel ini lebih singkat. Lebih banyak kalimat-kalimat pendek. Dan memang terasa lebih banyak pengulangan (terlebih dalam sudut Kara). Bagi sebagian pembaca, hal ini membuat Glaze tidak seperti novel Windry Ramadhina yang lain (saya tahu dari goodreads, btw). Namun, SAYA SUKA BANGET!

Ya ampun! Saya adalah penggemar narasi yang berulang-ulang. Narasi setipe ini membuat saya seakan membaca puisi, yang ditulis dengan sangat lugas, dan saya sangat menikmatinya.
Lalu, aku mandi—aku sempat tertidur lagi sebentar di samping bak air. Lalu, aku mengeringkan diri dan berpakaian. Lalu, aku ke bengkel. Lalu, aku duduk memandangi tanah liat yang akan kubentuk. (h. 220)
Begitu kira-kira. Saya sangat, sangat, sangat menikmati gaya bercerita Kara!

Terasa Personal dan Sangat Ringan

Nah, bisa saya bilang sepertinya gaya bercerita dari sudut Kara ini membuat Glaze terasa sangat personal bagi saya. Karena jelas saya tidak pernah berada di posisi Kalle maupun Kara.

Selain itu, saya rasa yang membuat novel ini terasa personal adalah masalah Kalle. Saya memang tidak kehilangan saudara, tapi saya semacam paham perasaannya, kegusaannya, dan luka yang bersarang dalam dirinya. Permasalahan ini sangat sederhana tapi saya paham banget! *peluk Kalle*

Dan saya suka banget pada akhir yang dipilih. Tidak ada penyesalan dan bukan sesuatu yang menunjukkan benar-benar kebahagiaan. Hanya kerelaan, keikhlasan, dan pengampunan. Saya suka banget pada akhirnya!

Termasuk saya suka jeda yang diberikan penulis di novel ini. Tidak seperti jeda dalam Angel in The Rain yang bikin saya senewen.

Glaze ini cukup tebal. Ada empat ratus halaman. Namun, ceritanya sendiri sederhana. Sangat sederhana. Namun, ketebalan ini sama sekali tidak saya rasakan ketika mulai masuk dalam dunia Glaze. Segalanya mengalir dengan baik. Segalanya diakhiri dengan memuaskan. Tentunya membawa pesan yang sangat dalam.
Ada hal-hal yang harus dilepaskan agar kita bisa melanjutkan hidup.”  (h. 92)
Hanya ada satu hal yang saya tidak begitu suka, karakter Kara. Saya memang menikmati gaya berceritanya, tapi saya tidak suka para karakternya yang lemah. Kara kelewat lemah dan saya tidak pernah suka karakter wanita yang lemah. :(

Terakhir

Oke, saya sadar saya sudah menuliskan begitu panjang, tapi apa boleh buat, kan? Sudah lama sekali saya tidak sebegini puas dengan karya penulis. ((Iya, sejujurnya Angle in The Rain banyakan bikin saya senewen dan Last Forever nggak begitu saya suka.))

Sebelum menutup, saya mau membahas sedikit soal latar Kalle dan Kara yang serupa, mereka sebatang kara. Saya sering skeptis pada karakter yang sebatang kara. Pasalnya karakter begini jelas lebih mudah diarahkan. Karena dia sendirian dan tidak ada yang namanya “keluarga” yang membuat konflik lebih banyak. Akan tetapi, pada Glaze saya mendapatkan alasan kenapa keduanya dibuat sebatang kara. Jadi, saya sangat, sangat, sangat puas.

Glaze sangat cocok dibaca bagi kamu yang menyukai karya Windry Ramadhina. Bagi kamu yang menatap hidup dengan muram seperti Kalle dan Kara di awal cerita. Bagi kamu yang membutuhkan cerita ringan yang begitu melegakan.



PHOTO CHALLENGE

Oke, saya memang bilang tadi terakhir, tapi saya lalu ingat bahwa pada tulisan review, host diminta melakukan photo challenge. Untuk Glaze Blog Tour sendiri, host diminta mengabadikan novel Glaze bersama benda berawalan huruf K.

Yang terpikirkan sejak awal dalam benak saya adalah kenangan. Karena begitulah yang saya dapat dari Glaze, kenangan akan orang tercinta. Sayangnya, meski kadang kenangan hadir dalam bentuk benda, bisa saja benda itu sudah memiliki nama lain, yang tidak berawalan huruf K.

Saya pun terpikirkan keramik. Biar bagaimanapun, yang membuat Kalle dan Kara berinteraksi, berkenalan, dan bersama adalah keramik (entah dalam bentuk mug maupun guci, atau yang lainnya). Sayangnya, saya tidak punya keramik. :(

Lantas, saya teringat hal lain. Hal yang menghubungkan saya dengan semua ini, kertas.


Dari kertas saya mengenal Kalle dan Kara. Lewat kertas pula saya membaca kisah mereka. Lewat kertas saya mengenal sang penulis, Windry Ramadhina, dan mencintai karya-karya serta karakter-karakternya. Kertas adalah sarana saya dekat dengan tulisan, dengan karya, dengan dunia penulis, dan mungkin juga dengan kamu.

Share:

35 comments

  1. Heni Susanti8/10/17 09:46

    Dan aku pun puas membaca reviewnya. Detail sekali. Memberikan banyak gambaran tentang Glaze dan kisah Kalle-Kara. Aku jadi semakin tertarik ingin mengetahui karakter mereka secara langsung.

    ReplyDelete
  2. […] komentar di Ngobrol Bersama Windry Ramadhina dan review Glaze. Komentar tidak boleh oneliner, […]

    ReplyDelete
  3. Rimadian Ulfa Yusfia8/10/17 14:56

    Ihh.. Itu photo challenge-nya lucu banget.. Suka juga sama review-nya, terutama karena kakak bahas tentang narasi yang berulang-ulang. Aku awalnya nggak paham itu maksudnya gimana, tapi setelah dikasih contohnya jadi rada ngeh, hehe. Maksudnya yang ada banyak kata 'lalu' itu, ya? Wah, meskipun kesannya emang jadi mirip puisi, tapi tetap aja pengin baca. Terlebih lagi soal riset penulis yang matang (soalnya kadang-kadang kesel baca novel yang latar tempat pun nggak jelas ada di mana dan dia itu sebenarnya lagi apa, hehe) benar-benar bikin aku pengen baca ini, huhu.

    ReplyDelete
  4. Dari review ini, hal yang membuat saya tertarik untuk membaca novel ini adalah penggunaan dua sudut pandang orang pertama yang berbeda dari kedua tokoh utamanya, apalagi jika tidak terasa membingungkan saat dibaca. Selain itu, dari jumlah halamannya yang lumayan tebal dan bernuansa muram, tapi bisa ringan dibaca, membuat saya semakin tertarik untuk membacanya.

    ReplyDelete
  5. kak Wardah foto2nya selalu menawan ya. jadi iri karena gak bisa bikin poto bagus *lah malah komen foto 😂😂 well, dari review-nya sih aku beneran ngebet pengin baca Glaze. selain karena faktor si 'Layar Terkembang', aku emang suka novel2nya Windry, jadi mesti baca novel terbaru dia ini 😉😉

    ReplyDelete
  6. Aku penasaran dengan penulisan dua sudut pandang orang berbeda dengan penyebutan diri yang sama (aku), namun pembaca (wardah) bisa langsung mengenali siapa yang sedang bercerita. Ini menarik sekali.

    Reviewnya detail, namun tetap tidak spoiler. Jadi tetap penasaran dengan novel ini. ;)

    ReplyDelete
  7. @HamdatunNupus9/10/17 23:24

    woww, dan saya takjub akan alur cerita glaze dari review ini. pemaparannya apik, bahkan tidak terlalu banyak yang diceritakan, tapi efek sedihnya udah berasa. Good job kak Wardah

    ReplyDelete
  8. Elsita F. Mokodompit10/10/17 01:37

    Menarik. Jujur, aku juga tipe orang yang kurang suka sama cewek lemah, apalagi kalau openingnya udah sedih-sedih. Tapi berhubung aku pembaca yang optimis, meskipun begitu, yang pling aku nantikan setelah pembukaan yang menyedihkan adalah cerita yang lancar dan mengalir. Dan, kayaknya aku akan sama puas dengan peresensi kalau baca bukunya

    ReplyDelete
  9. Dunia tembikar Kara sangat membuatku penasaran, mungkin bisa mempengaruhiku untuk mencoba seni tembikar di lain waktu. . Dari review kak Wardah di atas, ingin juga rasanya aku mengetahui masa lalu dan hubungan antara ketiga tokohnya serta akhir ceritanya.. Semoga aku diberi kesempatan untuk menyelami kisah Kara dan Kalle di Glaze..

    ReplyDelete
  10. Review yang bikin tambah pengen ngoleksi Glaze!
    Mbak Windry jadi salah satu penulis favoritku karena beliau selalu bisa menghidupkan dunia di novelnya dan mengajak kita masuk kesana -bahkan kadang nggak rela kalo pergi setelah selesai baca-
    Dunia Kara dan Kalle juga sangat asing bagiku. Aku tidak pernah mengalami pertemuan seperti yang terjadi pada mereka. Aku juga tidak pernah membayangkan kehilangan orang terdekat seperti yang dialami oleh Kara dan Kalle. Ada banyak hal yang membuat kita sangat berat menjalani hidup, mungkin dengan menyelami dunia Kara-Kalle, aku juga bisa merasakan keikhlasan dan kelegaan yang sama

    ReplyDelete
  11. Hana rahmalia11/10/17 05:54

    Maaf ka Wardah, aku gak baca review kakak ini secara keseluruhan. Karena aku kurang suka spoiler pada buku-buku yang belum ku baca heheh biar pas baca bikin penasaran gitu xD tapiiiii... aku sempet baca di blog kak Windry teaser buku Glaze ini, muram ya, suram juga? Hehe karena bagian awalnya itu kematian adiknya Kalle. Aku penasaran dengan buku ini dan ingin sekali membacanya. Anyway, aku juga sempat dikenalkan dengan tokoh seekor kucing dalam novel ini, Kuas. Waa aku suka sekali dengan kucing, membaca novel yang juga menghadirkan kucing di dalamnya pasti akan menyenangkan..

    ReplyDelete
  12. Fitra Aulianty11/10/17 07:12

    Blurbnya kayak puisi. Pedih dan sesakk. Ya ampun mereka ketemu waktu Eliot meninggal? Dan dari sana kisah mereka dimulai?:"" kok berasa sedih banget. Btw aku penasaran dengan buku ini krn covernya. Kirain itu pecahan gelas, ternyata pecahan tembikar ya. Artistik banget. Aku juga penasaram banget sama multi pov buatan Kak Windry. Penasaraann. Ngarep bisa menang, apalagi ini buku tunggal xD

    ReplyDelete
  13. Review yang cukup detail, lebih mengarah pada kesan-kesan daripada teknisnya and i like it! Aku bukan penyuka narasi berulang, tapi tetap saja novel ini patut dinanti! (*apalagi kalo bisa dapet gratis, hehe)

    Gak sabar buat mengintip keseharian seniman keramik yang akan diwakili Kara. Semoga karakter Kalle yang membawa permasalahan 'menjaga kekasih adiknya' dapat kuterima secara lapang. Berharap logikaku nyampe ke situ, hehe.

    ReplyDelete
  14. Ahaha sama soal hal terakhir itu, tapi ternyata Glaze nggak seaneh kedengarannya kok. :D

    ReplyDelete
  15. Review ini no-spoiler sih :)
    Saya lebih banyak ceritain kesan yg saya dapat soal novel ini ehehe

    ReplyDelete
  16. Terima kasih banyak sudah suka review saya! Amin, semoga berjodoh dengan novel ini.

    ReplyDelete
  17. Terima kasih, kak. Sebisa mungkin saya memang tidak spoiler hehe.

    ReplyDelete
  18. Fitri Laily12/10/17 04:43

    400 halaman?
    Kira-kira butuh waktu berapa lama ya Kak Wardah ngabisinnya? *emangnya makanan

    Reviewnya ini meski panjang x lebar tapi ringan dan enak dibaca. Gak terasa, scroll-scroll-scroll..eh..udah di akhir aja :D

    ReplyDelete
  19. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mbak Windry saya tidak ingin membaca hasil review diatas karena saya berharap sekali untuk berkesempatan membaca buku Glaze secara langsung, sebuah cerita akan terasa lebih mengesankan untuk dibaca ketika kita sama sekali tidak tahu mengenai apa yang ada didalamnya. Itu salah satu prinsip saya selama membaca sebuah cerita novel dan lainnya, terimakasih :)

    ReplyDelete
  20. Eh? Sebelumnya aku tidak pernah tau loh ada narasi yang berulang-ulang. Yang aku tau narasi pendek-pendek kayak di novel Dilan. Penasaran nih gimana rasanya baca narasi berulang-ulang. Btw, novel ini termasuk genre Dark Romance nggak sih? Soalnya yang aku tangkep kok auranya suram bgt gitu.
    Photo challenge-nya unik bgt Kak, kertas. Kok aku kepikiran kalo disuruh photo chalenge, pengen fotoin kucing ya? Soalnya aku teringat sama kucingnya si Kara ya kalo gk salah? Yg namanya Kuas itu. Ataupun fotoin kodok aja kali ya, kayak nama mobilnya Kara.😂😂

    ReplyDelete
  21. Review saya no spoiler kak. :)
    Isinya hanya kesan saya ketika membaca buku ini.

    ReplyDelete
  22. Jujur, saya suka review Kak Wardah di IG. Ini kali pertama baca review Kakak di Blog dan ternyata sama kerennya!! Saya juga dibuat makin penasaran sama dunia Kara. Semoga Glaze bisa melengkapi koleksi buku-buku karya Windry Ramadhina yang saya miliki.

    ReplyDelete
  23. Wah reviewnya sangat berkesan ya. Kakak terlihat sdah terbiasa dg semua tulisan kak Windry(aku baru baca 2). Jujur aku tak terlalu suka yg narasi ulang. Sebenarnya menarik kyk puisi, tp kalau kbanyakan malah jadi bosen dan monoton. Aku jg setuju sama kakak yg gak terlalu suka tokoh sebatang kara yg lemah. Aku gak sukanya yg bnr2 lemah sampe kyk gak bisa mlkukan sesuatu meski ada dkungn dg mumculnya yokoh kuat.
    Membaca review bookbloger membuat saya kadang berpikir kritis dan sama kayak reviewer.
    Terima kasih sdah mengenalkan novel ini secara singkat shingga membuat penasaran utk membacanya 😆😆😆

    ReplyDelete
  24. Jujur saya tidak mau membuka rahasia Glaze dari sinopsis diatas. Biar Glaze menjadi kejutan baru untuk saya. Tapi manusia memang memiliki naluri penasaran. Terimakasih Windry sudah mebangun penasaran saya lewat tulisan diatas. Beruntungnya tergaris sebagai penulis, dan Glaze lahir dengan tulisan yang membuat pembacanya yakin akan kagum.

    ReplyDelete
  25. Halo, tidak ada rahasia Glaze yang saya ungkap kecuali siapa Elliot kok. Review saya selalu diusahakan NO SPOILER. :)

    ReplyDelete
  26. Thank you! Senang sekali kalau review saya bermanfaat.
    Semoga berjodoh dengan buku-buku Windry ya.

    ReplyDelete
  27. Terima kasih, ehehe. Senang sekali tahu ada yang suka review saya.

    ReplyDelete
  28. ini ceritanya sendu yang menyenangkan?
    banyak yg bilang bahwa cerita ini sangat ringan, sampai2 mbak Wardah nggak sadar. duh, beneran ini ringan? blurbny sendu banget...

    hohoo, jadi Kara dan Kalle sebatang kara? baru tau>< trus kalau nggak dari keluarga apa kisah ini memiliki konflik yg cukup utk dijelajah?
    duduh, penasaran sama bagaimana cara Kara melewati harinya setelah sepeninggal Eliot T.T

    dan aku jadi penasaran sama buku kak Windry yg lain. apalagi mbak Wardah udah nyinggung Rayyi dua kali):

    ReplyDelete
  29. Saya sempat baca penggalan cerita awal glaze di websitenya roro dan dari situ saya langsung penasaran sama jalan ceritanya ditambah karena saya memang sudah jatuh cinta dengan tulisan mbak windry semenjak Angel in The Rain membuat saya makin penasaran akan seperti apa gaya penulisannya kali ini. Terima kasih wardah untuk review dan gambaran ceritanya. Saya makin penasaran lagi dengan kisah mereka berdua dan semoga endingnya gk kayak yg Angel in The Rain ya mengingat tadi wardah gk senewen kayaknya dengan akhir kisahnya... :D

    ReplyDelete
  30. Mana yg katanya spoiler?! Kaga ada! Bikin penasaran mah iya! Etapi cocok enggak nih kalau bacanya pas musim hujan dan daku sedang penuh kerinduan gini? Kayaknya mewek terus aku 😂
    Btw aku baca Last Forever malah suka lho, hahaha. Soalnya yaah, bbrp relate dgn opini pribadiku. Well, ketakutan² akan keterikatan.
    Kalo Glaze kayaknya lebih ke keikhlasan, ditinggalkan, dll ya. Fix mewek ini sih 😀

    ReplyDelete
  31. Iya beberapa tema Last Forever emang ngena cuma aku ga suka karena ceritanya dragging banget. Capek nungguin konflik kelar.

    Wkwk nggak sesuram itu kok, ya paling cuma netes dikit

    ReplyDelete
  32. Ayo baca Montase! Nggak bakal nyesal sama ceritanya Rayyi!

    ReplyDelete
  33. […] Romance: A Thing Called Us – Andry Setiawan. Glaze – Windry Ramadhina. Aftertaste – Sefryana Khairil. Then & Now – Arleen A. Boy Toy – Aliazalea. […]

    ReplyDelete