The Second Best; Cinta Segitiga dari Orang Ketiga

Judul: The Second Best
Penulis: Morra Quatro
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 256 halaman
"Because the second best is the first loser." (h. 200)
Edgar dan Aidan. Dua sahabat yang begitu erat dan sama-sama menarik. Gwen mengenal keduanya lewat kegiatan paduan suara mahasiswa, yang kekurangan orang pasca insiden tahun lalu.

Musik membuat mereka dekat, sayangnya musik tak selamanya merekatkan mereka.
Cinta Segitiga dan/atau Orang Ketiga

Pada awalnya, saya pikir The Second Best bercerita tentang kisah cinta Gwen yang tidak bisa bersama lelaki yang sangat dicintainya dan justru berakhir dengan lelaki yang mencintainya. Yah, semacam itulah.

Namun, ternyata tidak. The Second Best lebih rumit dari itu. Ada banyak orang, banyak karakter, banyak cerita yang terjalin. Ada Aidan dan Edgar, dua lelaki yang membuat banyak mata anggota PSM tertarik. Ada Rianna, yang terang-terangan menggoda Edgar. Ada Maya, yang kecil imut-imut tapi berhasil masuk lebih dahulu dalam hidup Aidan. Dan tentu saja, ada Gwen, yang berada di antara Edgar dan Aidan dan segala persimpangan itu.

Itu baru tokoh-tokohnya. Belum lagi latar cerita yang membangun The Second Best tak kalah rumit. Ada PSM, yang tahun sebelumnya terlibat insiden sehingga cukup kacau. Ada Edgar dan impiannya dalam bermusik. Ada Aidan, yang diam-diam menghanyutkan dan selalu di belakang tindakan Edgar. Dan ada Gwen, dengan kompetisi jurnalistiknya, gitar di bahunya, dan beasiswa ke seberang benua.

Itu baru tiga karakter. Belum karakter-karakter pendukung lainnya. Seperti Nilam, si sahabat Gwen. Atau Isaac, sohib Aidan dan Edgar. Atau Rianna, Maya, dan sederet nama anggota PSM lainnya.

Nah, di tengah-tengah itu semua, ada Gwen, sang tokoh utama yang membawakan The Second Best lewat sudut pandang orang pertama. Gwen, yang diam-diam mencintai Aidan tapi juga sangat mempedulikan dan menyayangi Edgar. Gwen, yang berada di tengah cinta segitiga dan menjadi orang ketiga. Sebab, Aidan telah berpacaran dengan Maya.
"Aku kira kamu udah cukup dengan Edgar aja, kenapa kamu ngerasa perlu banget untuk dapat dua-duanya?" (h. 191)
Saya nggak pernah suka cerita cinta segitiga atau orang ketiga, tapi The Second Best menghadirkan dengan cara yang sangat-sangat berbeda. Cara penceritaan Morra Quatro yang selalu mengiris, pilihan kata-kata yang digunakan untuk menjalin cerita, hingga tindakan yang diambil Gwen, saya tidak menyadari itu sedikit pun. Gwen tidak mewujud dalam sosok orang ketiga yang saya benci. Gwen tidak berusaha mengganggu hubungan siapa pun. Gwen hanya menceritakan kisahnya, perasaannya, dengan mengiris hati.

Hal-hal yang Tidak Ada

Sayangnya, dengan gaya cerita Morra Quatro (yang sangat berhasil menunjukkan kesedihan, keputusasaan, kesenduan, kesakitan, dan segala emosi Gwen lewat diksinya) saya justru merasakan banyak hal yang seharusnya ada jadi tidak ada.

Pertama, banyak deskripsi penting yang seharusnya menyatukan cerita yang tidak ada. Misalnya saja ketika Gwen berdiri di atas panggung. Saya merasakan emosi Gwen ketika itu, tapi saya tidak mengenali penggambaran Gwen ketika berdiri. Dia tidak sekalipun membicarakan soal dia mulai menyanyi atau bagaimana akhirnya dia turun dan berjalan dan yah sesuatu yang sebenarnya sederhana. Gwen (atau Morra Quatro sendiri) di sini berusaha menekankan pada emosi Gwen (yang berhasil saya rasakan di setiap baris), tetapi tidak membangun sekeliling Gwen dengan baik. Saya sering merasa hilang orientasi ketika membaca karena minimnya deskripsi soal sekeliling Gwen.

Kedua, gaya penceritaan ini dan fakta bahwa The Second Best ditulis dari sudut orang pertama, membuat saya tidak mengenali karakternya. Tidak ada ruang yang cukup untuk membuat pembaca mengenal kenapa persahabatan Aidan dan Edgar sebegitu lekatnya. Tidak ada baris-baris yang menceritakan hubungan lebih dekat antara Gwen dan Nilam (mereka seharusnya sahabat yang cukup akrab, kan?). Tidak ada konfrontasi dengan Maya sehingga saya super-duper bingung ketika Maya memaksa ikut (h. 171) yang terasa janggal kenapa alasan Edgar tidak cukup membuat gadis itu paham ini krusial dan bukan perselingkuhan.

Oke, intinya saya bingung dengan beberapa sikap karakter di The Second Best. Morra Quatro terlalu fokus pada emosi Gwen dan berusaha dengan sangat maksimal membuat pembaca memahami kesenduan gadis itu lewat baris-baris dalam novel ini. Akan tetapi, tidak ada ruang untuk menunjukkan secara lugas kepada pembaca nasib karakter-karakter yang lain. Tidak ada ruang bagi pembaca untuk mengenali Edgar dan Aidan lebih dalam. Tidak ada waktu untuk menyelami karakter Maya atau karakter-karakter yang lain. Padahal karakternya ada banyak dan saya nggak hafal semua.

Selain itu, karena sejak awal kesan "patah hati" Gwen sudah ditunjukkan, saya justru merasa tidak menemukan alasan kenapa Gwen mulai menyukai Aidan. Saya tidak mendapatkan chemistry sejak kapan perasaan itu tumbuh. Saya juga tidak mendapatkan chemistry antara Gwen dengan Edgar.

Terakhir

Secara keseluruhan saya menikmati The Second Best. Saya masih mengangumi cara Morra Quatro merangkai kata sehingga membuat saya sebegitu tersiksa. Novel-novel Morra Quatro selalu begitu. Menghancurkan saya tapi sekaligus menyisakan perasaan puas ketika selesai membaca.
"Karena ada beberapa hal yang terlihat lebih baik dari jauh, ketika sudah ada jarak." (h. 240-241)
Sebelum mengakhiri, ada banyak saltik dan kesalahan lain yang seharusnya bisa dihindari. Ia di halaman 60 paragraf terakhir yang tidak jelas maksudnya siapa. Acur di halaman 109 yang seharusnya tak acuh. Kalimat "kembali lagi masa lalu" di halaman 240 yang mungkin maksudnya "kembali lagi 'ke' masa lalu" atau sejenisnya. Yah, mungkn ada yang lain, tapi hanya tiga itu yang saya catat.

Satu lagi, novel ini cukup dewasa. Ada adegan yang cukup (sejujurnya bagi saya pribadi) mengerikan dan cukup eksplisit. Adegan itu juga cukup mendadak. Jadi, yah, beware.

Selamat membaca!

Share:

1 comments

  1. […] & Now – Arleen A. Boy Toy – Aliazalea. Angle in The Rain – Windry Ramadhina. The Second Best – Morra Quatro.  Starry Night – Larasaty Laras. Love in The City of Angels – Irene Dyah. The Playlist […]

    ReplyDelete