Passion Stories; Kisah 10 Orang Sukses Mengejar Passion

Judul: Passion Stories
Penulis: Qalbinur Nawawi
Penerbit: Metagraf
Tebal: 158 halaman
You can only find your passion if you try different things. (hlm. 126)
Passion Stories berisikan obrolan penulis dengan sepuluh orang. Kesepuluh orang ini punya cerita soal bagaimana perjalanan mereka sampai di titik ini, sampai di saat mereka bisa disebut “sukses” dalam mengejar passion mereka.

Lewat buku ini, pembaca akan menemukan perjalanan kisah kesuksesan narasumber, yang bisa menjadi inspirasi.

Passion dan Sejarah di Balik Kesuksesan
There is no elevator to success. (hlm. 19)
Lewat obrolan penulis dengan Hendy Setiono, pembaca akan langsung dibeberkan fakta bahwa kesuksesan pemilik Baba Raffi itu bukan dicapai lewat jalan yang mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, hingga berbagai macam usaha yang dilakukan agar lelaki itu bisa membesarkan bisnisnya.

Obrolan dengan Hendy Setiono adalah obrolan yang membuka buku ini. Berikutnya, pembaca akan disuguhi cerita dari narasumber-narasumber yang lain. Beberapa nama yang familier bagi saya adalah Taufik Hidayat, Dewi Lestari, dan Sandiaga Uno.

Lalu, dari kesepuluh obrolan ini, saya menangkap satu hal yang serupa. Yaitu, kesuksesan mereka adalah buah dari segala bentuk usaha dan perjuangan mereka, yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang. Selain itu, tantangan terbesar yang biasanya mereka dapatkan adalah dari orang-orang terdekat dan dari diri sendiri.
You against you, itu yang saya pegang. Bahwa kita harus kuat melawan diri kita sendiri. (hlm. 99)
Ada beberapa profesi yang ditampilkan pada buku ini, ada penulis, atlit, pengusaha, hingga engtertainer. Meski demikian, tidak sedikit narasumber yang punya profesi serupa. Meskipun mereka bergelut di bidang yang berbeda (seperti ada pebulutangkis dan karateka di kategori atlit, akan tetapi saya merasa profesi yang ditawarkan terlalu terbatas.

Profesi yang terbatas ini membuat saya sedikit kecewa karena judul yang dibawa oleh penulis adalah “passion”. Apakah tidak ada profesi lain? Chef? Guru? Tentara?

Layout Menarik

Pertama kali melihat buku ini, saya sudah langsung suka pada kovernya! Cakep! Ilustrasinya menarik banget!

Selain itu, buku ini punya layout yang menarik. Sebenarnya sangat sederhana. Penulis (atau penanat layout ya harusnya) menyelipkan kutipan-kutipan di sela orbrolan. Kutipan ini terasa begitu pas dengan hal yang sedang dibicarakan. Sehingga meskipun membuat pembaca sedikit tidak fokus pada obrolan yang disuguhkan, kutipan ini tetap menjadi nilai tambah dalam buku.

Sayangnya, saya justru sedikit kecewa dengan format ala obrolan wawancara dalam buku ini. Format ini sering saya temui dalam majalah, dan saya merasa oke saja. Namun, masalahnya hanya satu: pada majalah biasanya hanya ada satu atau paling nggak dua tokoh. Buku ini menghadirkan sepuluh tokoh dan kesepuluhnya punya format yang sama.

Alhasil, saya jadi merasa bosan membacanya karena pertanyaannya mirip satu sama lain  dan meski jawabannya punya versi sendiri dan masing-masing tokoh punya cerita sendiri, segalanya terasa serupa. Dan saya tentu jadi bosan.

Seandainya saja formatnya diubah jadi cerita ala-ala artilkel begitu, mungkin saya akan lebih suka pada buku ini.

Terakhir

Secara keseluruhan, buku ini berhasil membuat saya mengenal sedikit soal latar belakang para narasumber. Meskipun beberapa obrolan terlalu pendek dan tidak dalam, secara keseluruhan okelah. Pasti butuh buku khusus untuk menuliskan kisah hidup para narasumber secara lebih terperinci, tapi untuk sekarang saya cukup puas dengan membaca buku ini.

Satu bagian yang paling menohok saya adalah obrolan penulis dengan Dewi Lestari.
Menulis itu membutuhkan latihan yang tak terhingga. (hlm. 135)
Selamat membaca! Selamat (berlatih) menulis!

Share:

1 comments

  1. […] Self-Improvement & Self-Help: Passion Stories – Qalbinur Nawawi. […]

    ReplyDelete