Boy Toy; Kisah Cinta Beda Usia

Judul: Boy Toy
Penulis: aliaZalea
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 384 halaman

Boy Toy bercerita tentang Lea, seorang dosen berusia tiga puluhan yang punya masa lalu menyakitkan, dan Taran, seorang personil boyband yang tengah naik daun.

Pertemuan mereka terjadi di Bali. Tanpa sengaja keduanya bertemu. Dan tanpa alasan yang jelas keduanya saling tertarik. Sayang, selepas di Bali, keduanya tidak saling kontak dengan alasan yang (sejujurnya) tolol banget (tapi mungkin kalo di posisi mereka saya juga bakal bersikap gitu). Nah, Taran lambat laun naksir pada Lea dan dimulailah perjuangan Taran mendapatkan hati Lea.

Sayangnya, ada jarak usia yang cukup jauh di antara Taran dengan Lea dan ... sesuatu di masa lalu Lea. Apakah keduanya bisa bersatu?
Beda Usia dan Beda Dunia

Ada dua hal yang membuat saya membaca Boy Toy. Yang pertama adalah kedua tokoh punya selisih umur yang cukup banyak, dengan karakter utama perempuan yang jauh lebih tua delapan tahun. Jelas saja saya penasaran dengan bagaimana kisah cinta dan perjuangan Taran (yang jelas jauh lebih muda) untuk mendapatkan hati Lea. Saya pun penasaran apa yang akan dilakukan penulis kepada karakter Lea.

Sepanjang Boy Toy, penulis berulang kali mengulang-ulang (apalagi dari sisi karakter Taran) bahwa Lea bukan lagi gadis muda yang gampang klepek-klepek karena cowok ganteng atau cinta. Meski pengulangan ini sedikit menyebalkan, karakter Lea berhasil terlihat sedewasa usianya. Lea juga berhasil menjadi sosok karakter utama perempuan yang mandiri, percaya diri, dan tentu saja kuat.

Nah, perbedaan usia ini tentu saja berakhir menjadi salah satu konflik dalam Boy Toy. Lea cemas dengan perbedaan usianya yang cukup jauh dengan Taran. Di sisi lain, Taran justru tidak terlalu peduli dengan tahun

Alasan kedua saya membaca Boy Toy adalah kedua tokoh punya latar dunia yang berbeda. Tunggu dulu, dunia yang saya maksud ini dunia jin ya, melainkan dunia kedua tokoh hidup. Lea adalah seorang dosen, dia akademisi dan telah punya karir mapan di dunia pendidikan. Sedangkan Taran adalah artis, personil boyband yang tengah tenar. Saya penasaran bagaimana penulis mempertemukan kedua orang ini.

Sejujurnya perkenalan keduanya terlalu cheesy. Keduanya bertemu di kolam renang dan tidak sengaja bertabrakan (meski saat itu Taran bersama teman-temannya yang lain) dan yah begitulah. Selain bagian pertemuan ini, banyak juga kedekatan keduanya yang cheesy sih, tapi Boy Toy berhasil mengundang tawa. Karakter personil Pentagon akan dengan sangat mudah membuat pembaca jatuh hati dan tertawa lepas. Meski demikian, nggak sedikit joke yang dilontarkan dalam novel ini berkonten dewasa.

Kembali ke dunia kehidupan dua tokoh kita. Jadi, di awal-awal saya cukup merasakan 'dunia artis' Taran, tapi lama-kelamaan hal itu tidak lagi terasa. Taran bisa ke mana-mana seorang diri dan tidak pernah sekalipun bertemu penggemarnya. Belum lagi kehidupan glamor Taran sebagai artis tidak terasa. Kehidupan Taran sebagai idola gadis seluruh negeri juga tidak terlihat.

Di sisi lain, kehidupan Lea sebagai dosen juga hilang dan timbul. Di satu sisi saya merasakan Lea sebagai seorang dosen, tapi di sisi lain saya merasa hal itu tidak ada lagi. Apalagi ketika Lea sudah berdua bersama Taran, latar mereka seakan hilang. Hal ini membuat Boy Toy terasa seperti novel romance kebanyakan.

Lea: Masa Lalu dan Keluarga

Ada dua hal yang menjadikan karakter Lea dalam novel Boy Toy ini. Yang pertama adalah masa lalunya. Lea punya masa lalu yang menyebabkan dirinya takut berkomitmen. Masa lalu ini sebenarnya menarik, meski bukan hal umum (karena sering saya temui di novel ber-genre serupa). Masa lalu ini juga bisa membuat karakter Lea lebih dalam dan kompleks. Sayangnya, masa lalu yang dipilih penulis ini mengingatkan saya pada novel lain yang sudah terbit lebih dahulu. Belum lagi masa lalu ini menjadi tidak berhasil mengembangkan karakter Lea menjadi lebih kompleks karena hal kedua yang menjadikan karakter Lea, yaitu keluarga.

Di buku ini, Lea adalah gadis sebatang kara. Iya, dia hidup sendirian tanpa orang tua atau saudara. Fakta ini membuat masa lalu Lea tidak berhasil memperumit hubungan Lea dengan Taran. Lebih lagi, karena Lea sebatang kara, Taran tidak lagi butuh usaha sangat besar untuk menaklukkan keluarga yang biasanya menentang hubungan seorang gadis dengan brondong.

Sepanjang membaca Boy Toy, saya selalu berpikir jangan-jangan penulis sengaja membuat Lea sebatang kara untuk mempermudah plot dan alur cerita. Habis, riak dalam hubungan Lea dan Taran yang hanya berkutat di hal-hal yang itu saja dan tidak ada sesuatu yang sangat berat (semisal restu orang tua) menghalangi mereka yang punya usia begitu jauh itu.

Terakhir

Secara keseluruhan saya menikmati Boy Toy. Ceritanya sangat mengalir. Alurnya rapi. Meski judulnya serem banget, tapi secara keseluruhan saya menikmati.

Saya hanya berharap tidak ada remaja kinyis-kinyis yang membaca Boy Toy karena banyak hal-hal yang cukup dewasa (joke yang rada vulgar, pembahasaan soal hal-hal yang dewasa juga) dalam novel ini.

Selamat membaca!

Share:

1 comments

  1. […] – Windry Ramadhina. Aftertaste – Sefryana Khairil. Then & Now – Arleen A. Boy Toy – Aliazalea. Angle in The Rain – Windry Ramadhina. The Second Best – Morra Quatro.  Starry Night […]

    ReplyDelete